APKASINDO: Sawit Bukan Penyumbang Emisi Gas Kaca

Source: Internet

 

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Riau menepis konotasi negatif terkait emisi gas rumah kaca disumbangkan oleh sawit seperti yang dilontarkan sejumlah Non-Governmental Organization (NGO= Organisasi non-Pemerintah/LSM) nasional dan internasional.

“Padahal selama ini emisi gas rumah kaca yang disumbang oleh sawit 835 kilogram justru lebih kecil dari emisi yang ditimbulkan oleh kedelai 1.387 kilogram. Kelapa sawit dua kali lipat lebih mampu menyerap CO2 dibanding tanaman lain, serta daunnya 10 kali lebih efisien menjadi kanopi,” kata Ketua DPW Apkasindo Riau, Gulat Medali Emas Manurung di Pekanbaru, Rabu (13/12/2017)

Pendapat demikian disebutkan sebagai pokok pembahasan utama dalam seminar nasional berjudul “Sawit Goes to Campus yang menjadi pertama kali pertama digelar di Sumatera, pada 16-17 Desember 2017 di auditorium Pasca Sarjana Universitas Islam Riau (UIR) di Pekanbaru.

Menurut dia, seminar yang bertema “Sawit Antara Mitos dan Fakta” akan diikuti seribu lebih peserta yang dominan mahasiswa itu akan diberikan pemahaman tentang kelapa sawit oleh sejumlah narasumber.

Ia menyebutkan, nara sumber yang bakal menyampaikan pemikirannya antara lain Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDP), DR.Dono Bustami, Peneliti Ekonomi Kelapa Sawit, DR. Bayu Krisnamurthi, Kepala Balai Penelitian Marihat, Dr. Agus Susanto dan Peneliti Industri Hilir Kelapa Sawit, DR. Donal Siahaan.

“Pemikiran para pakar itu dibutuhkan karena sawit adalah kekayaan alam Indonesia yang tidak dimiliki oleh banyak negara di dunia. Tercatat 10 fakta penting tentang peran 11,2 juta hektar kebun kelapa sawit di Indonesia. Mulai dari sawit menjadi sumber kehidupan, menjadi tanaman yang tidak berkontribusi besar terhadap berkurangnya hutan hujan tropis, hingga limbah sawit multi manfaat,” katanya.

Ia menjelaskan, hasil olahan sawit justru sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat seperti minyak goreng, sabun, kosmetik, bio solar dan aneka olahan kelapa sawit lainnya,

Sedangkan produktifitas kelapa sawit kata Gulat lebih tinggi dibanding komoditas minyak nabati lain dan lebih efisien soal penggunaan lahan. Misalnya untuk memproduksi 1 ton CPO sawit hanya butuh lahan 0,26 hektar. Sementara untuk jumlah produksi yang sama, kedelai butuh lahan 2,2 hektar dan minyak bunga matahari 2 hektar, katanya.

Untuk pendaftaran peserta masih terbuka hari ini dan mahasiswa bakal kebagian baju kaos, sertifikat dan ada juga doorprice di akhir acara. Untuk link pendaftaran peserta di bit.ly/SawitGoesToCampus.

Sekretaris APKASINDORiau, Rino Afrino menjelaskan bahwa berkebun kelapa sawit juga menjadi salah satu cara untuk merevitalisasi hutan yang pernah hancur akibat logging atau illegal logging.

“Ini lantaran kelapa sawit menyimpan kandungan karbon yang cukup besar. Lalu perkebunan kelapa sawit juga bisa menjadikan daerah yang tadinya kampung sunyi, berubah menjadi kota berkembang. Contohnya Tapung di Kabupaten Kampar, geliat ekonomi pada kelapa sawit membuat daerah ini cepat berkembang,” katanya.

Rino menekankan bahwa kelapa sawit akan berdampak negatif jika ditangani oleh perusahaan atau petani yang tidak bertanggungjawab. Tapi jika ditangan perusahaan maupun petani yang bertanggung jawab, industri kelapa sawit akan muncul sebagai cahaya penerang dan salah satu indikator kemajuan ekonomi masyarakat, daerah, bahkan nasional.

“Dengan mendukung kelapa sawit, berarti kita mendukung kemajuan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Terkait kenapa sawit dimusuhi sejumlah NGO, menurut Dekan Fakultas Pertanian UIR, Dr.Ir.UP Ismail M.Agr yang juga Ketua Pelaksana Sawit Goes to Campus mengatakan mereka melarang kelapa sawit di Indonesia lantaran Indonesia adalah “buffer” terakhir untuk ozon dan “global warming”.

Bagi saya, katanya, ini sebagai bentuk ketidakadilan, masa ekonomi negara lain boleh maju dan berkembang sementara Indonesia tidak? Beda kalau para “pelarang” tadi memberikan kompensasi ekonomi yang sepadan dan menjadi solusi ganda untuk masyarakat dan pendapatan nasional.

Source :

Industry

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


sixteen − ten =