Buaian Ekspor Batu Bara dan Resep Indonesia Menjadi Negara Maju

Foto: ANTARA FOTO/Risky Andrianto

 

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai industri sudah terbuai dengan ekspor komoditas seperti batu bara dan sawit, sehingga melupakan sektor manufaktur. Padahal, negara yang memiliki perekonomian besar akan maju sektor manufakturnya, seperti G20.

Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan perekonomian Indonesia sebenarnya pernah tumbuh 5% pada tahun 1990-an hingga sebelum krisis 1998. Saat itu, komoditas yang kuat adalah minyak dan gas bumi; serta kayu. Jadi, banyak orang menjadi kaya di Indonesia karena bisnis utamanya adalah pengolahan kayu.

Saat itu juga Indonesia menjadi “Macan Asia” karena industri manufakturnya berkembang. Bambang tidak menampik manufaktur Indonesia sangat berkembang karena ada relokasi industri dari Jepang.

Waktu itu, Jepang sudah menjadi negara maju, upah buruh di sana menjadi mahal. Sehingga perlu relokasi. Indonesia pun berhasil “mengambil hati” para pengusaha Jepang karena upah buruh yang paling murah. Ketika itu, Indonesia harus bersaing dengan Malaysia dan Thailand.

Alhasil, masa itu, pabrik garmen dan sepatu berbondong-bondong ke Indonesia. Sektor manufaktur pun menyumbang 30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ketika itu.

Namun, kejayaan manufaktur tak bertahan selamanya. “Setelah krisis, usaha mereka kolaps. Mungkin kesalahan manajemen perusahaan dan utang luar negeri terlalu tinggi, jadi bangkrut,” kata Bambang di Jakarta, Kamis (22/11).

Setelah manufaktur meredup, muncul era komoditas, seperti batu bara dan kelapa sawit. Apalagi, ketika itu Tiongkok sangat “haus” energi. Salah satu sumber energi Tiongkok adalah batu bara dari Indonesia.

Akhirnya, Indonesia pun mengekspor batu bara secara agresif. Di sinilah, Bambang menilai Indonesia melakukan kesalahan berpikir. Alasannya, ekspor batu bara hanya bersifat jangka pendek karena tidak didukung dengan cadangan yang besar.

Indonesia lalu terjebak dan tidak lagi mengembangkan manufaktur. “Memang batu bara dan sawit memberikan kemakmuran. Karena sudah terbuai, jadi industri manufaktur yang sudah kolaps tidak pernah dikembangkan kembali. Padahal negara G20 itu ekonominya besar karena sumbangan manufakturnya signifikan,” ujar Bambang.

Untuk itu, menurut Bambang, Indonesia harus melakukan reformasi industri. Selain itu, bisa mengembangkan jasa modern. Apalagi saat ini industri manufaktur hanya 20% dari sebelumnya 30%.

Agar mencapai cita-cita itu, ada dua tantangan. Pertama, Indonesia kekurangan insinyur. Kedua, meskipun ada insinyur, tapi yang bekerja sesuai bidangnya hanya sekitar 5.000 orang di Indonesia. Artinya dibutuhkan kontribusi yang lebih besar lagi.

Selain itu, jalan supaya Indonesia menjadi negara maju menurut Bambang adalah keilmuwan. Kemudian, memperbanyak pengusaha di sektor yang berbasis nilai tambah. “Ciri dari negara maju adalah harus banyak enterpreuner. Tidak ada negara maju banyak pegawai negerinya,” kata Bambang.

Menurut Bambang, Indonesia saat ini masih kekurangan pengusaha. Ini terlihat dari daftar orang kaya yang ada di Forbes, tidak banyak berubah dalam kurun waktu hampir 30 tahun.

Salah satu sektor yang bisa dikembangkan dan memiliki nilai tambah yang besar adalah industri kreatif. Jadi jika itu dimaksimalkan potensinya luar biasa. Jadi, harus ada reformasi industri.

Reformasi industri ini penting agar Indonesia lepas dari jebakan pendapatan menengah. Kalau 2040 menjadi negara maju. Indonesia bisa memiliki pendapatan US$ 20 ribu per tahun. Indonesia bisa menempati urutan ke 4 hingga 7 negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Ini karena ada tiga negara yang tidak akan mungkin disusul, yakni Tiongkok, Amerika Serikat dan India.

Target itu bisa ditopang dengan bonus demografi Indonesia dan mengalami puncaknya sekitar 2025 hingga 2030. Bonus demografi ini bisa menjadi emas sebagai tumpuan mencapai negeri maju, seperti Jepang yang memanfaatkan momentum tersebut.

Jepang saat itu memanfaatkan bonus demografinya untuk melesatkan ekonomi. Alhasil, ketika saat ini penduduknya sudah memasuki masa menua, sudah menjadi negara maju. “Kita harus memanfaatkan bonus demografi. Jadi kalau kita belum kaya, lalu pensiun susah kan,” ujar dia.

Source :

katadata

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


eighteen − one =