Dua Mata Pisau Peringatan Hari Sawit: Devisa dan Kerusakan Hutan

Source: Internet

 

Minyak sawit tak hanya menjadi penyumbang devisa, di sisi lain punya dampak pada kerusakan hutan dan aspek sosial.

Sekadar iseng saya mencoba bertanya kepada seorang kawan “Kamu tahu minyak sawit dipakai untuk apa saja? Kawan itu menjawab dengan cepat “Tahu, untuk minyak goreng kan.”

“Cuma itu aja?”

“Iya, memang untuk apa lagi?”

Minyak sawit identik sebagai bahan baku minyak goreng. Padahal, minyak sawit punya berbagai macam produk turunan dan banyak mengisi ragam kebutuhan sehari-hari.

Turunan produk minyak sawit antara lain margarin, sabun mandi, mi instan, kosmetika, obat-obatan, hingga makanan ringan, bahan bakar nonfosil, selai, cokelat, sampo, detergen, dan masih banyak lagi, semuanya mengandung minyak sawit. Minyak sawit sangat mengakar dalam kehidupan sehari-hari dan meluas penggunaannya ke banyak negara di dunia.

Meskipun demikian, keberadaannya selalu dirundung kontroversi. Mulai dari tudingan sebagai material yang mengganggu kesehatan tubuh, hingga industrinya yang dicap sebagai perusak lingkungan.

Kritik demi kritik terhadap industri kelapa sawit Indonesia dari hulu ke hilir memang sudah lama terjadi. Namun, ekspansi industri berbasis kelapa sawit tetap berjalan, dan selama beberapa dekade menjadi salah satu komoditas tulang punggung Indonesia.

Bagi pelaku industri sawit, peran penting industri kelapa sawit bagi roda perekonomian nasional, perlu diseleberasi dalam sebuah hari peringatan. Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mengusulkan kepada pemerintah agar setiap 18 November diperingati sebagai Hari Sawit Indonesia.  Alasan Derom, karena pada tanggal itu tanaman sawit pertama kali dikembangkan komersial di Indonesia mulai 18 November 1911. Penanaman sawit pertama di Indonesia adalah di Pulo Raja, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

“Acara peringatan Hari Sawit Indonesia akan digelar secara sederhana di PPKS [Pusat Penelitian Kelapa Sawit] Medan,” kata Derom Bangun, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) dikutip dari Antara. 

Menurut Derom, peringatan hari sawit perlu diadakan guna menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu produsen sawit terbesar di dunia. Pertanyaannya perlukah Indonesia memiliki perayaan hari sawit? Apa urgensinya bagi masyarakat?

Dua Mata Pisau Industri Sawit

Sejak 1920 perkembangan industri kelapa sawit sangat cepat, bahkan bisa dibilang revolusioner. Pada 1980, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih sekitar 300.000 hektare. Pada 2014, luas lahan bertambah menjadi 11 juta hektare.

Selain itu, pangsa pasar kelapa sawit rakyat juga terus meningkat. Pada 1980, pangsa pasar kelapa sawit rakyat hanya sekitar 2 persen. Pada 2014, angka tersebut meningkat menjadi 42 persen. Artinya perkebunan kelapa sawit merupakan spektrum ekonomi, yang di dalamnya ada sektor rumah tangga petani, usaha kecil menengah, pelaku perkebunan hingga industri besar kelapa sawit.

Bayu Krisnamurthi, Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) yang juga mantan Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, merasa hari Sawit Indonesia perlu diperingati dan keberadaannya patut dipertimbangkan pemerintah.

“Ide untuk adanya Hari Sawit Indonesia sangat baik dan perlu didukung. [Sebab] Sawit adalah industri terpenting Indonesia saat ini, dilihat dari kontribusi ekspor, bahan baku, jumlah petani, pendapatan petani hingga energi terbarukan,” katanya kepada Tirto.

Bayu, yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan di pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan mantan Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dikenal sebagai sosok dengan dunia persawitan. Pendapatnya soal kontribusi sawit terhadap ekonomi memang ada benarnya.

Industri minyak sawit Indonesia pada 2017 ini cukup menggeliat. Per September 2017, realisasi produksi minyak sawit mencapai 4 juta ton, naik 2 persen dari Agustus 2017, sekaligus menjadi produksi tertinggi di tahun ini.

Kinerja positif juga terlihat pada realisasi ekspor. Sepanjang September, ekspor minyak sawit mencapai 2,76 juta ton, angkanya memang turun 7,5 persen dibanding Agustus 2017, tapi angka ekspor ini masih lebih tinggi dari tren ekspor sejak awal tahun ini. Untungnya saat ekspor turun, harga rata-rata minyak sawit dalam bentuk crude palm oil (CPO) global sepanjang September 2017 justru naik 7 persen menjadi US$724,9 per metrik ton dari harga rata-rata Agustus 2017. Kenaikan ini dipicu stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia yang menipis.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor komoditas minyak sawit menyentuh US$15,22 miliar pada periode Januari-Agustus 2017, naik 43 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$10,58 miliar. Komoditas minyak sawit paling tajam dalam sumbangan kinerja ekspor nonmigas Indonesia, yakni sebesar 15 persen dari total nilai ekspor nonmigas US$98,78 miliar. Setelah sawit, disusul batu bara US$13,24 miliar dan mesin/peralatan listrik US$5,85 miliar.

Sumbangan sawit tak hanya pada devisa, tapi penyerapan tenaga kerja. Diperkirakan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri dari sektor sawit sebanyak 5,7 juta orang, dengan 2,2 juta orang merupakan orang-orang yang terlibat dalam perkebunan sawit rakyat.

“Keseluruhan, diperkirakan sekitar 16–20 juta orang mengandalkan penghidupan dari bisnis kelapa sawit hulu-hilir,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dikutip dari Antara.

Namun, seiring dengan industri perkebunan kelapa sawit terus menggeliat, dampaknya tak bisa dipungkiri terasa pada lingkungan terutama hutan Indonesia. Luas hutan hujan tropis di Tanah Air terus mengalami penyusutan. Kebutuhan untuk sektor perkebunan dan pertanian yang tinggi membuat hutan menjadi berubah fungsi.

Akhir 1990, Indonesia masih menempati predikat hutan padat yang mewakili 84 persen dari luas tanah Indonesia. Deforestasi mulai terjadi pada 1970 dan semakin cepat setiap tahunnya. Kawasan hutan hujan tropis yang mulanya diperkirakan 170 juta hektar pada 1900 menurun menjadi kurang dari 100 juta hektar pada abad ke-20. Yang memperihatinkan, dari total aktivitas penebangan hutan, 80 persen dilakukan dengan cara ilegal.

Berdasarkan laporan World Wide Fund for Nature (WWF) berjudul The Environmental Status of Borneo 2016, salah satu pendorong utama penggundulan hutan disebabkan ekspansi perkebunan kelapa sawit. Pada 2015, luas lahan perkebunan kelapa sawit di Borneo sudah mencapai 7 juta hektare, atau 10 persen dari luas Borneo. Persoalan sawit juga bukan hanya di Borneo saja, juga Sumatera.

Hampir setiap tahun kasus pembakaran lahan dan hutan terjadi salah satunya ekspansi bisnis sawit. Rusaknya hutan ancaman serius bagi spesies yang terancam punah seperti gajah kerdil Borneo, Gajah Sumatera, Harimau Sumatera, Badak Sumatera, dan spesies Orang Utan yang hidup.

Sejak kelapa sawit menjadi komoditas paling menjanjikan, berbagai kawasan hutan dialihfungsikan untuk menjadi perkebunan kelapa sawit. Sejak itu pula, konflik antara manusia dengan makhluk satwa penghuni daerah hutan tak terhindari. Isu lingkungan dan sosial kerap menjadi persoalan di dunia internasional terutama Uni Eropa yang tajam menyoroti ekses negatif dari ekspansi lahan sawit. Kampanye negatif sering menimpa produk minyak sawit Indonesia. Gagasan pengembangan sawit berkelanjutan pun muncul, tapi masih menjadi persoalan dalam pelaksanaan di lapangan.

Sumbangan industri kelapa sawit kepada roda perekonomian dan tenaga kerja memang cukup besar. Sehingga tidak salah memang muncul wacana perayaan Hari Sawit Indonesia. Di sisi lain, persoalan dampak negatif industri sawit bagi lingkungan dan sosial, menjadi kenyataan yang tak bisa dibiarkan dari sebuah lumbung besar devisa ekspor bernama minyak kelapa sawit.

Source :

Tirto

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


three × five =