Jika Berkuasa, Prabowo Akan Turunkan Pajak Seperti Singapura

Foto: Mata Mata Politik

 

Calon Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, akan memangkas pajak penghasilan badan dan pribadi jika ia berkuasa—bagian dari rencana untuk bersaing dengan negara tetangga dengan pajak rendah seperti Singapura, dalam menarik lebih banyak investasi ke negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Reformasi pajak adalah salah satu program ekonomi utama yang akan dijabarkan Prabowo—sebutan mantan jenderal itu—dalam kampanye pemilihannya melawan Presiden Joko Widodo, menjelang pemungutan suara pada bulan April, menurut Dradjad Wibowo, seorang politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang membantu untuk merumuskan kebijakan untuk kubu Prabowo.

Rencana itu—yang mungkin akan digulirkan selama 10 tahun—masih harus diselesaikan, kata Wibowo. Meskipun dia tidak mengungkapkan kemungkinan tarif pajak, namun dia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk menurunkan pajak “setara dengan Singapura.”

Indonesia saat ini memiliki tingkat pajak penghasilan pribadi tertinggi sebesar 30 persen dan tarif pajak perusahaan 25 persen. Singapura memiliki tarif pajak perusahaan 17 persen dan tingkat individu tertinggi 22 persen untuk penduduk.

“Tarif pajak nominal kami terlalu tinggi,” kata Wibowo dalam sebuah wawancara di Jakarta pada Rabu (14/11). Reformasi pajak diperlukan untuk menarik lebih banyak bisnis asing serta mendorong ketaatan, katanya.

Dukungan Pemilih

Belum ada pihak yang merilis rencana kebijakan ekonomi yang rinci. Dalam suatu arahan pada Jumat (9/11), Wibowo mengatakan bahwa pemerintah Prabowo akan berusaha menaikkan ambang pendapatan tidak kena pajak dan mengurangi pajak penghasilan, dimulai dengan tarif yang berlaku untuk individu.

Kedua pesaing tersebut saling berhadapan di Pemilu 2014. Walau kampanye untuk pemilu tahun depan belum sepenuhnya berjalan, namun jajak pendapat awal menunjukkan Joko Widodo—yang dikenal sebagai Jokowi—dengan keunggulan signifikan. Sebuah survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting yang diterbitkan pada bulan Oktober, menunjukkan Jokowi dengan dukungan 60,2 persen versus 28,7 persen untuk Prabowo.

Indonesia memiliki salah satu rasio pajak-terhadap-PDB terendah di kawasan tersebut sekitar 11 persen, dan catatan ketaatan pajak yang buruk. Pemerintah Jokowi telah berusaha untuk meningkatkan kedua langkah tersebut, termasuk melakukan tax amnesty yang sukses, yang menggalang lebih dari $360 miliar dari aset yang tidak diumumkan yang ada di Indonesia dan di luar negeri.

Kemunduran pasar yang muncul dan pertumbuhan ekonomi yang lamban, telah membuat pekerjaan Jokowi menjadi lebih rumit. Perekonomian tumbuh sekitar 5 persen, jauh di bawah 7 persen yang dijanjikan presiden itu ketika dia berkuasa. Jokowi akan menetapkan target yang “lebih realistis” jika dia kembali menjabat, seorang pejabat senior partai mengatakan bulan ini.

Prabowo menargetkan pertumbuhan 6 persen hingga 6,5 persen pada akhir masa jabatan pertamanya. Dia akan bertujuan untuk meningkatkan manufaktur di sektor pangan, pertanian, dan perikanan untuk membantu Indonesia “menjadi mangkuk makanan raksasa di Asia Tenggara dan, setidaknya, memberi makan populasi Indonesia yang meningkat,” kata Wibowo.

“Kebijakan kami akan lebih pro-pertumbuhan, lebih pro-bisnis, dan juga sangat serius dalam mendorong keadilan dan keberlanjutan,” katanya. “Iklim saat ini sangat buruk untuk pertumbuhan dan bisnis.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


4 × two =