Ingin Masuk ke Indonesia, Ini Harapan Investor Asing

Foto: Sylke Febrina Laucereno

 

Indonesia kini sedang berupaya menarik investor asing untuk berinvestasi. Berbagai cara dilakukan mulai dari pemberian insentif pajak, kemudahan mengurus izin hingga penawaran proyek yang sudah clean and clear atau siap untuk didanai.

Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Singapura dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indonesia Investment Promotion Center (IIPC), Atase Perdagangan dan Atase keuangan yang tergabung dalam Global Investor Relation Unit (GIRU) menggelar acara investment day Indonesia di Marina Bay Sands, acara ini dihadiri oleh ratusan investor maupun agen dari Singapura.

Dari investment day ini, calon investor asing yang ingin masuk mengharapkan lebih untuk Indonesia. Misalnya mulai dari iklim politik hingga nilai tukar yang stabil.

Business Project Manager Tien Yuan Chemical Pte Ltd, Lee Pau Sheng menjelaskan Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk perkembangan bisnis perusahaan. Apalagi saat ini Indonesia sedang gencar membangun infrastruktur untuk mendorong perekonomian. Menurut dia banyak bisnis yang bisa dilakukan di Indonesia.

Lee mengungkapkan, perusahaannya sedang mencari warehouse atau pergudangan skala besar untuk menampung produksi. Namun tak hanya itu, perusahaan juga sedang mencari lahan investasi di wilayah yang ditawarkan oleh investment day hari ini.

“Kami memilih karena kami optimis Indonesia memiliki proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baik. Indonesia adalah negara yang besar di kawasan Asean, GDP yang baik dan bisa berkolaborasi dengan Singapura dan Malaysia,” ujar Lee di Orchid Ballroom Marina Bay Sands, Singapura, Jumat (31/8/2018).

Menurut dia hubungan Indonesia, Singapura dan Malaysia tak bisa dipisahkan. Lee menyebut ketiga negara ini seperti keluarga yang terpisah jauh dan Indonesia adalah kakak terbesar untuk Malaysia dan Singapura.

Hal ini tercermin dari ketika 1998 Indonesia mengalami krisis kedua negara saling membantu untuk hubungan yang baik.

Lee menjelaskan dalam berinvestasi di negara manapun pasti memiliki risiko terhadap nilai tukar. Namun hal tersebut bukanlah hal yang sangat buruk, pasalnya dalam berinvestasi sebuah perusahaan pasti memiliki visi jangka panjang.

“Ya nilai tukar memang selalu ada risiko, tapi dalam berinvestasi kita tidak datang hari ini lalu besok pergi lagi. Investasi untuk jangka panjang. Karena itu efek dari foreign direct investment sangat baik untuk setiap negara,” imbuh dia.

Dia menjelaskan, setiap investor yang berinvestasi utamanya adalah orientasi bisnis dan menciptakan uang. Namun dalam proses making money tersebut juga harus diimbangi dengan proyeksi terhadap risiko-risiko yang kemungkinan akan terjadi.

“Saya rasa untuk investasi di manapun atau di Indonesia itu membutuhkan kepastian dan stabilitas ekonomi untuk menjaga iklim investasi. Lalu hal lain seperti kasus korupsi juga harus dituntaskan dan kemudian iklim politik harus dijaga agar tidak mengganggu suasana ekonomi,” jelas dia.

Sementara itu Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk Singapura Michael Goutama menjelaskan Indonesia saat ini memiliki pesaing berat untuk menarik investor asing.

“Kita memang punya potensi besar, tapi harus bekerja keras karena ada kompetitor seperti Vietnam, Filipina dan India yang juga agresif menawarkan investasi,” ujar dia.

Namun saat ini Indonesia sudah masuk ke negara yang memiliki pemerintahan yang pro bisnis dan pro jobs. Kemudian Indonesia juga cukup stabil dalam menjaga iklim politik hingga fundamental ekonomi.

Menurut dia, agar Indonesia bisa lebih berkembang yang harus diperhatikan adalah human capital atau sumber daya manusia (SDM). Dia menyampaikan SDM adalah ujung tombak yang sangat penting untuk perkembangan sebuah negara.

“Latih SDM dengan kualitas pendidikan yang sangat baik, standarnya harus dinaikkan. Agar SDM kita tidak kalah dengan negara lain. Apalagi sekarang sudah ada revolusi industri 4.0 ini harus dihadapi secara profesional,” jelas dia.

BI Dorong Optimalisasi Investasi Daerah

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Ardityaswara menyampaikan bahwa kegiatan investment day ini, baik di tingkat pusat maupun daerah bersinergi dengan pemerintah daerah, korporasi dan UMKM mempromosikan 30 project profile investment opportunities di 8 daerah investasi potensial yaitu Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Nusa Tengara Timur. l

“Project yang dipromosikan adalah proyek investasi yang bersifat clean dan clear yaitu memiliki feasibility study serta tidak memiliki kendala dalam izin usaha dan lahan,” ujar Mirza.

Promosi terpadu khususnya untuk sektor pariwisata merupakan langkah konkrit dari implementasi kesepakatan antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam kegiatan Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (Rakorpusda) pada 29 Agustus 2018 di Yogyakarta.

Pada kesempatan tersebut, salah satu strategi kebijakan yang menjadi prioritas untuk sektor pariwisata adalah peningkatan aksesibilitas, keragaman atraksi, kualitas amenitas, didukung oleh penguatan promosi, dan peningkatan kapasitas pelaku pariwisata (3A2P) terutama untuk destinasi wisata prioritas.

Indonesia Investment Day adalah perwujudan program linkage Investor Relation Unit/IRU-Regional Investor Relation Unit/RIRU-Global Investor Relation Unit/GIRU yang merupakan upaya integrasi kegiatan hubungan investor di tingkat regional, nasional maupun internasional. Linkage IRU-RIRU-GIRU tersebut ditujukan untuk mensinergikan upaya dan peran kementerian/lembaga dan Bank Indonesia dalam mengelola persepsi positif terhadap ekonomi Indonesia untuk mendorong aliran investasi ke Indonesia, antara lain melalui kegiatan promosi terpadu.

Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung investasi dan perdagangan Indonesia dengan negara mitra yang semakin baik sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam event tersebut, Bank Indonesia juga mempromosikan produk-produk UMKM premium unggulan Indonesia melalui platform marketplace global dengan mekanisme Business to Business (B2B) dan Business to Consumer (B2C). Platform ini menghubungkan UMKM di Indonesia dengan komunitas pembeli dan penjual dunia.

Hal ini diharapkan membuka kesempatan bagi UMKM untuk dikenal secara luas dan berdaya saing sehingga mengakselerasi produk UMKM ke skala yang lebih tinggi yaitu pasar internasional. Di tahap awal, terdapat 11 UMKM binaan Bank Indonesia yang terhubung dalam platform marketplace global tersebut, yaitu kopi, kain batik, tenun, songket, dan kerajinan tangan.

Source :

detik

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


fifteen − 13 =