Pengusaha binaan Chevron kini gencar menciptakan sentra ekonomi baru di Riau

Photo: merdeka.com

 

Siapa tak mengenal Provinsi Riau. Salah satu daerah yang dianugerahi Tuhan dengan sumber daya alam dan hasil buminya. Orang bilang, di atas tanah Riau ada minyak dan di bawah pun ada minyak. Maksudnya, di atas tanah Riau banyak hamparan perkebunan sawit yang menghasilkan minyak sawit. Sedangkan di bawah tanah Riau terdapat minyak dan gas bumi.

Salah satu perusahaan yang kepincut datang ke Riau saat itu adalah Caltex Pacific Oil Company (CPOC) yang kemudian berubah nama menjadi Chevron Pacific Indonesia. Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Amerika Serikat itu mendarat tahun 1950-an di Riau untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas di Lapangan Minas, Blok Rokan, Riau. Sadar tak hanya ingin berbisnis di sana, Chevron pun sekitar tahun 1954 melakukan program tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat di sana.

Saat itu, perusahaan mendirikan SMA 1 Pekanbaru, berlanjut membangunn Jembatan Siak, pembangunan jalan utama Duri-Dumai dan pendirian Politeknik Caltex Riau. Berbekal pengalaman menunaikan tanggung jawab sosial perusahaan alias Corporate Social Responsinility (CSR) bertahun-tahun, maka perusahaan menyusun empat fokus utama untuk pemberdayaan masyarakat.

Danya Dewanti, Manager Corporate Communication Chevron mengungkapkan, ada empat fokus program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan kepada masyarakat wilayah operasi, yakni edukasi, ekonomi development, kesehatan, dan lingkungan hidup. Adapun yang lain, seperti bantuan bencana, budaya, dan infrastruktur akan diterapkan tergantung situasi. “Tahun 1950-an program bantuan kami sporadis, ada warga kirim proposal kami bantu,” kata dia kepada KONTAN, saat ditemui di acara Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition Mei lalu.

Namun sejak tahun 2000, kegiatan CSR perusahaan sudah terarah, Chevron memetakan kebutuhan warga di wilayah operasi. Termasuk memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Salah satunya yang paling berefek ganda adalah CSR di bidang ekonomi development melalui program PRISMA atau Promoting Sustainable Integrated Farming, Small Enterprize Cluster and Microfinance.

Program ini sebuah inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menyasar petani, pelaku usaha mikro, serta kelompok-kelompok swadaya masyarakat yang tersebar di wilayah operasi Chevron. Isi dari program ini adalah pelatihan berkala, studi banding, dan pembagian bibit.

Adapun yang paling terlihat adalah berkembangnya ekonomi warga Suku Sakai dan kelompok Bank Sampah di Pematang Pudu. “Selain pelatihan bagi orang tuanya, kami memberikan beasiswa bagi anak-anak Warga Suku Sakai dari Sekolah Dasar sampai Strata 2,” imbuh dia.

Suku Sakai yang merupakan salah satu suku asli Provinsi Riau saat ini telah menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru di Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Mereka kini menjadi petani mandiri sehingga kebiasaan berpindah-pindah atau nomaden dalam bertani mulai ditinggalkan.

Maklum, sejak dulu warga Suku Sakai mencari penghidupan dengan bergantung kepada alam, namun kini alam di Riau sudah berubah, sebagian besar hutan telah menjadi perkebunan sawit sehingga warga sulit berkebun secara mandiri.

Ketua Kelompok Pertanian Terpadu Masyarakat Sakai Mus Mulyadi (43) bercerita, sepengetahuannya di Riau ada sekitar 3.000 kepala keluarga (KK) warga Suku Sakai yang tersebar di beberapa Kabupaten di Provinsi Riau. Mereka terbiasa berkelompok dalam menjalankan aktivitasnya, seperti halnya yang dilakukan warga Suku Sakai di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. “Kami biasa bertani berpindah-pindah, tapi sekarang alam sudah hilang,” ungkap dia.

Alhasil, kelompok tani di Pematang Pudu harus memutar otak untuk bertahan hidup dari berubahnya keadaan alam yang kini lebih banyak perkebunan sawit. Tak mau menyerah, Mus Mulyadi awalnya mulai berusaha dengan membuat kolam ikan lele bersama beberapa warga dengan harapan bisa diternakan. Upayanya memajukan kelompok tani itu lantas membuat Chevon melirik kerja keras kelompok tani di Pematang Pudu tersebut. “Chevron melihat kami ingin berubah, mereka membantu untuk pelatihan,” ujar dia.

Kebetulan memang, salah satu daerah operasi Chevron yakni Lapangan Duri tak jauh dari Pematang Pudu. Dus, Chevron pun memiliki tanggung jawab sosial untuk memberdayakan masyarakat daerah operasi. “Chevron mulai membantu kami tahun 2012 lalu,” imbuh dia.

Kata Mus Mulyadi, bantuan paling berharga bagi warga adalah pelatihan untuk mengubah pola pikir, dari yang tadinya hanya menjadi petani nomaden menjadi petani yang bisa berbisnis secara mandiri, bahkan bisa menciptakan pasar. Bayangkan saja, dengan pelatihan oleh instruktur yang disediakan Chevron, lima kelompok tani Pematang Pudu terbentuk dengan jumlah 120 KK. Saat ini lima kelompok tani itu sudah memiliki lahan garapan seluas 12 hektare (ha). Lahan garapan itu digunakan untuk peternakan, pertanian, dan perikanan.

Dia mengungkapkan, untuk lahan pertanian kelompok tani ini mengelola empat (ha) untuk ditanami cabai, kangkung, kacang, dan jagung. Kemudian, sektor perikanan juga menempati lahan seluas empat (ha) dengan mengelola 16 kolam ikan lele, terakhir peternakan ayam pedaging dan petelur dengan menempati lahan (ha). “Ikan lela setiap panen bisa mendapat penjualan Rp 19-Rp 24 juta per bulan,” ujarnya sambil tersenyum bahagia.

Mus Mulyadi juga membeberkan, penghasilan dari pertanian cabai dan kangkung juga cukup menggiurkan, yakni Rp 200.000-Rp500.000 per hari. “Sudah banyak muncul juragan-juragan cabai,” imbuh Mus Mulyadi yang saat itu ikut dibawa Chevron mengikuti acara IPA 2018.

Sedangkan untuk peternakan ayam pedaging dan petelur kelompok tani itu bisa menghasilkan Rp 9 juta per hari. Mus Mulyadi menjelaskan, kini Pematang Pudu merupakan pasar bagi ketiga sektor bisnis itu, bahkan Pematang Pudu menjadi salah satu daerah rujukan bagi warga Suku Sakai untuk berlatih bisnis dalam peternakan, pertanian, dan perikanan. “Kami sekarang sudah menjadi pelatih bagi warga Suku Sakai lain, tak lagi pakai pelatih dari Chevron,” kata dia.

Dia menceritakan, dirinya dan beberapa orang kini sedang melatih beberapa kelompok tani bagi Suku Sakai. “Kami tidak dibayar untujk melatih,” urainya. Saat ini Mus Mulyadi pun bangga bahwa sudah banyak anak-anak Suku Sakai sudah menyecap pendidikan hingga Sarjana.

Meskipun sudah berhasil, Mus Muladi masih berharap Chevron tetap membantunya atau mendukungnya dalam melatih kelompok tani Suku Sakai yang masih tersebar di berbagai daerah. Agar mereka juga bisa menjadi warga yang mandiri seperti kelompok tani di Pematang Pudu.

Segendang sepenarian, Chevron rupanya konsen juga dengan pemberdayaan ekonomi Bank Sampah. Sambas Hutabarat (40) Penggagas Bank Sampah di Pematang Pudu mengutarakan, sebagai pemuda karang taruna setempat dirinya bersama teman-teman acapkali membersihkan sampah di sepanjang jalan yang dilalui warga.

Kegiatan rutin itu rupanya memantik akalnya untuk memilah sampah yang bisa dijual ke pengepul dan bisa di daur ulang untuk dibuat kerajinan tangan. “Banyak sampah yang punya nilai jual. Laku dijual. Kami kolektifkan, kami jual ke pengepul,” ujarnya Sambas yang juga ditemui KONTAN di acara IPA Mei lalu.

Sambas menjelaskan, dari semangat untuk menjadikan lingkungan sekitar bersih, kemudian Chevron pun melihat kegiatan positif itu, sehingga pada tahun 2015 kelompok pemuda itu mendapatkan pelatihan administrasi, studi banding, dan membuat image produk untuk membentuk lembaga. “Kami diajarkan membuat Bank Sampah,” imbuh dia.

Ia menerangkan, Bank Sampah ini mirip dengan bank konvensional lainnya, hanya saja bedanya warga tidak menyetor uang melainkan menyetor sampah yang nantinya bisa dikonversi menjadi uang dengan nominal sesuai dengan nilai jual sampah yang diantarkan kepada Bank Sampah.

Meski sudah mendapat uang hasil dari konversi sampah tersebut, nasabah hanya bisa mengambil dalam bentuk uang maksimal sudah mencapai Rp 50.000 atau bisa diambil setelah tiga bulan menabung sampah. “Sampah ditimbang lalu dikonversi menjadi uang, kami masukan buku tabungan, ini cara kerjanya seperti bank,” kata dia.

Sampah-sampah yang siap dibeli sebelumnya sudah dipilah, baik kertas maupun plastik. Bila sampah bungkus plastik, botol, dan kertas dalam keadaan bersih maka nilai jualnya berbeda dengan sampah yang masih kotor. Pembedaan nominal harga jual itu, kata Sambas memberikan pelajaran bagi nasabah atau warga agar memilah dan memilih sampah sebelum dijual ke Bank Sampah. “Nasabah kami sudah 544 orang,” ungkap dia.

Saat ini Sambas memiliki enam karyawan di kantor untuk bagian adminstrasi sedangkan perajin sampah daur ulang ada 11 orang. Tugas perajin adalah untuk membuat produk tas, tempat tisu, dan bunga imitasi dari sampah-sampah yang sudah disetor para nasabah itu. “Aset kami sudah Rp 96 juta sekarang,” ujarnya.

Tak ingin berpuas diri, Sambas bermimpi bisa terus menularkan semangat kebersihan bagi setiap warga dengan membentuk Bank Sampah supaya ekonomi bisa terbentuk sekaligus mampu membuat warga peduli akan lingkungan sekitarnya.

“Saya masih berharap Chevron tetap membantu, agar makin banyak bank sampah. Saya sendiri sedang melatih 23 desa untuk mendirikan bank sampah,” urainya. Sambas mengatakan, dari data Badan Pusat Statistik Riau tahun 2016 sebanyak 600 ton sampah dihasilkan dan mayoritas adalah sampah plastik.

Wan Syamsinar, Pemilik Usaha Kerajinan Tenun Wan Syamsinar asal Riau mengungkapkan, dirinya saat ini memiliki 10 mesin tenun dengan 10 perajin “Waktu 2015 Chevron memberikan bantuan tujuh mesin tenun dan pelatihan,” imbuhnya. Saat ini Wan Sam Sinar bisa menjual 30 lembar kain tenun setiap bulan dengan harga berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta per kain tenun.

Kata dia, dari mesin tenun itu, setiap bulan per orang bisa menghasilkan lima kain tenun, sedangkan untuk kain tenun yang premium bisa menghasilkan tiga kain. “Saya upah mereka (perajin) Rp 1 juta per bulan,” ujar Sam Sinar.

Dia mengatakan, perajin yang dimilikinya merupakan para mahasiswa. “Jadi saya mempekerjakan mereka dari jam 8.00-15.00, setelah itu mereka kuliah malam,” katanya. Ke depan, Wan Sam Sinar berharap Chevron bisa membantu lagi mesin agar bisa lebih banyak lagi yang bisa dipekerjakan. Untuk satu mesin tenun harganya Rp 7 juta.

Menanggapi program CSR yang dialakukan Chevron di daerah operasinya, Wisnu Prabawa Taher, Kepala Divisi Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjelaskan, apabila sentra ekonomi tersebut berhasil berjalan dengan sustainable, maka sektor hulu migas terbukti mampu bekerja bersama masyarakat dalam pemberdayaan ekonomi sekitar wilayah operasi migas. “Ini bentuk konkret, kontribusi hulu migas di luar tugas utama mencari cadangan dan memproduksikan migas tersebut,” kata dia ke KONTAN, Minggu (1/7).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


19 − 8 =