Usaha Warga di Teluk Ipal Dihentikan, Mata Pencaharian Warga Ini Dinilai Merusak Lingkungan

Source: Internet

 

Masyarakat Teluk Papal Kecewa terhadap keputusan Camat Bantan menghentikan semua usaha pembuatan bata mereka.

Keputusan tersebut dinilai mematikan mata pencariann warga yang memang berharap dari usaha itu.

Pemilik bedeng batu bata, Desa Teluk Papal, Kecamatan Bantan, Bengkalis, Bunangin kepada Tribun, Senin (9/10) pagi mengatakan, keputusan Camat tersebut disampaikan saat pertemuan bersama masyarakat Desa Papal Sabtu, (7/10) kemarin.

“Kami kecewa mengapa camat memutuskan untuk menutup semua usaha bedeng batu bata ini. Padahal sebagian masyarakat bergantung kehidupan di sana,” jelas Bunangin.

Menurut dia, seharusnya camat bisa berlaku adil melihat kondisi kehidupan masyarakat yang bergantung pada usaha tersebut.

“Keberadaan bedeng terutama yang melakukan pengerukan dengan alat berat bisa merusak tanah di pesisir pantai, dan mempercepat abrasi,” ungkap Bunangin.

Hanya saja menurut dia, hanya satu bedeng yang melakukan pengerukan tanah pembuatan batu bata dengan menggunakan alat berat. Selebihnya Bendeng lain melakukan pengerukan dengan cara manual menggunakan cangkul.

“Ini seharusnya menjadi pertimbangan dari Camat untuk memutuskan dengan adil. Kami yang melakukan pengerukan secara manual harusnya tidak dihentikan untuk membuat batu bata,” terangnya.

Menurut dia, banyak masyarakat Teluk Papal yang bekerja di bedeng batu bata ini. Mulai hari mereka tidak memiliki pekerjaan karena bedeng sudah dilaranng beroperasi oleh pihak kecamatan.

Seperti yang dirasakan Sriyati, warga Desa Papal lainnya, dia mulai bingung harus bekerja dimana karena Bedeng miliknya tidak lagi boleh beroperasi oleh keputusan Camat. Sementara kehidupannya semua bersumber dari penjualan batu bata.

“Mau kerja apalagi kami tidak tahu, karena emang dari dulu sudah hidup dengan membuat batu bata ini, ” jelasnya.

Menurut dia, keputusan Camat kemarin di sampaikan saat pertemuan dengan masyarakat di kantor desa. Menurut Camat pembuatan batu bata di kawasan pesisir merusak lingkungan karena mempercepat abrasi terjadi.

“Padahal kita lakukan dengan manual, tidak mungkin bisa merusak lingkungan dengan mencangkul tanah bahan batu bata secepat itu, ” ungkapnya.

Pihaknya berharap Camat mempertimbangkan kembali kembali keputusannya yang melarang masyarakat melakukan pembuatan batu bata di daerah tersebut. “Pertimbangkan kembali, kami yang kerja dengan manual ini mana mungkin bisa merusak lingkungan,” tandasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


thirteen + 5 =