Ajak Masyarakat Cintai Kuliner Ikan Indonesia, Menteri Susi Luncurkan SeaLoveMi

Foto: Tribunnews.com/ Rina Ayu

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menghadiri kampanye peluncuran program pemerintah bertajuk ‘Seafood Lovers Millennials’ (SeaLoveMi) di tengah penyelenggaraan Car Free Day (CFD) di Plaza Timur, kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Hari Ikan Nasional (Harkannas) ke-5 yang jatuh pada tanggal 21 November 2018.

SeaLoveMi adalah sebuah komunitas pencinta kuliner ikan asli Indonesia yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) guna mendorong masyarakat Indonesia lebih gemar mengkonsumsi ikan.

Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mendongkrak konsumsi ikan melalui kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Di samping untuk memperingati Hari Ikan Nasional, menurut Menteri Susi kegiatan ini juga merupakan bentuk apresiasi kepada masyarakat khususnya stakeholder perikanan.

“Hari Ikan Nasional ini kita peringati sebetulnya untuk: Satu, memberikan apresiasi kepada para pembudidaya, nelayan, perusahaan yang melakukan penangkapan ikan, budidaya ikan, dan lain sebagainya dari seluruh turunan jenis ikan, apakah itu air tawar atau air asin sama saja ya, semua ikan termasuk seafood. Yang telah membawa, menyiapkan, membesarkan ikan, produk makanan yang sangat sehat, sangat luar biasa gizinya, penuh dengan kolestrol yang sehat, penuh dengan protein-protein yang sehat yang dibutuhkan oleh badan kita, dan juga mengandung omega yang sangat penting untuk pertumbuhan otak kita,” tutur Menteri Susi, dalam keterangan pers Kementerian Kelautan dan Perikanan RI kepada Tribunnews.com.

Menteri Susi menginginkan agar angka konsumsi ikan masyarakat Indonesia dapat menyamai atau setidaknya mendekati Jepang yang mencapai angka 80 kg per kapita per tahun.

Sebagaimana kita ketahui, angka konsumsi ikan nasional rata-rata Indonesia tahun lalu (2017) sudah mencapai 47,12 kg per kapita, dan tahun ini ditargetkan dapat mencapai 50 kg per kapita per tahun, sedangkan pada 2019 diharapkan mencapai 54,49 kg per kapita.

“Jadi kalu kita lihat orang Jepang pintar-pintar, jangan heran, karena mereka makan seafood-nya lebih banyak. Jika ingin pintar seperti mereka, ya kita harus makan seperti mereka. Uang yang dipakai untuk membeli daging merah kita ganti ke ikan. Ikan apa saja sama gizinya. Ada yang bilang, ‘Bu kalau lele kan tidak bergizi,’ siapa bilang? Lele sangat enak dan bergizi. Ikan tilapia (nila) juga enak. Saya sangat suka. Apalagi ikan hasil laut karena variasinya banyak sekali, mulai dari teri, tenggiri, kakap, ikan manyun, dan lain sebagainya,” terang Menteri Susi.

Tak kalah menarik, guna menjaring antusiasme masyarakat, dalam kegiatan tersebut Menteri Susi bersama Chef Marinka dan Chef Chandra juga melakukan demo memasak.

Menteri Susi memasak menu andalannya yaitu Gulai Pindang Gunung. Gulai pindang gunung ala Menteri Susi ini kemudian dibagikan untuk dinikmati bersama para pengunjung.

Tak hanya imbauan untuk mengonsumsi ikan, dalam kegiatan tersebut tak lupa Menteri Susi mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai.

Ia mengimbau masyarakat untuk beralih dari kantong plastik ke tas ganepo atau tas kain, serta menghentikan penggunaan sedotan plastik.

“Saya mengimbau semua Bapak-bapak dan Ibu–ibu pulang dari sini berjanji, saya tidak akan lagi pakai plastik sekali pakai, mau tidak? Karena Indonesia ini menjadi penyumbang sampah terbesar nomor 2 di dunia ke laut. Tahun 2030 kalau kita tidak kurangi, sampah akan lebih banyak daripada ikan di laut kita. Mau kita makan sampah? Jadi kita dari diri kita. Beli tas ganepo, beli tas kain, stop pemakaian kresek dan sedotan,” pesannya.

Guna mengurangi sampah plastik yang sudah mencemari lingkungan, dalam kesempatan tersebut Menteri Susi juga memperkenalkan Ibu Istiqomah, seorang pengusaha kecil yang mengolah limbah sampah plastik (dari garmen) menjadi tas anyaman.

Menurutnya, tindakan tersebut adalah salah satu upaya untuk mengurangi dampak sampah plastik terhadap lingkungan, dan mengolahnya menjadi barang yang bernilai guna.

Source :

tribunnews

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


four × four =