Gubernur Riau Petakan Penyebab Banjir, Apa Saja?

Source: Internet

 

Saat ini Pemprov Riau bersiaga mengatasi banjir dan longsor yang kerap terjadi saat musim penghujan. Menurut Gubernur Riau, Arsyadjuliandi ‘Andi’ Rachman, penyebab banjir pun beragam.

“Kita dua tahun berturut-turut sudah berhasil mengatasi kebakaran lahan dan hutan. Saat ini musim penghujan, dan kita sudah siaga untuk menghadapi banjir,” kata Andi kepada detikcom, Kamis (30/11/2017).

Andi menyebutkan, selain soal kebakaran lahan, Riau juga rawan akan bencana banjir dan longsor dengan empat sungai besar yang ada. Musim hujan terjadi dua kali dalam setahu terhitung di akhir tahun dan di awal tahun.

“Untuk tanah longsor merupakan insidentil di beberapa wilayah dan waktu tertentu,” kata Andi.

Banjir yang terjadi awal tahun 2017 lalu, katanya, tercatat ada 3 korban jiwa di Kab Pelalawan dan Inhu. Tercatat ada 756 jiwa mengungsi di Kab Pelalawan, Rohul, Kampar, dan Inhil.

Untuk kawasan yang longsor, kata Andi, telah mengisolir 8 desa di Kec Kampar Kiri, Kab Kampar. Longsor ini sempat menutupi badan jalan sehingga menutup akses menuju desa. Kondisi ini sudah terjadi sejak dua tahun terakhir.

“Oleh karena itu kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam pengurangan risiko bencana banjir dan longsor sehingga dapat mengurangi korban dan kerugian seminimal mungkin,” kata Andi.

Gubernur Riau ini mencatat, ada beberapa hal yang penyebab banjir dan tanah longsor tersebut. Pertama, adanya perusakan dan penggundulan hutan atau kawasan tangkapan hujan di hulu. Air hujan banyak yang tidak terserap, sehingga air tersebut turun menuju sungai. Jika air dalam volume besar maka sungai tidak dapat menampung air yang pada akhirnya meluap ke sungai dan dataran rendah.

“Ini ditambah lagi penebangan hutan di hulu akan membuat tanah menjadi mudah longsor dan menjadi bencana bagi penduduk terdekat,” kata Andi.

Selanjutnya, kata Andi, soal perubahan sistem drainase pembuangan air. Suatu daerah yang biasanya tidak banjir akan menjadi langganan banjir jika di sekitar daerah itu melakukan sesuatu yang mengubah sistem drainase yang sudah ada tanpa Amdal.

“Seperti peninggian masal suatu wilayah rendah untuk membangun komplek perumahan baru, menyempatkan saluran air yang ada untuk suatu pembangunan,” kata Andi.

Penyebab lainnya, kata Andi, saluran air yang mampet akibat sampah yang menumpuk. Ini terjadi karena tidak ada kepedulian untuk membersihkan secara berkala terhadap got, selokan, parit dan saluran air lainnya.

“Membuang sampah sembarangan ini salah satu faktor terjadi banjir. Termasuk juga tanah yang terutup oleh paving dan aspal secara meluas dan massif. Ini menyebabkan air hujan yang turun sulit menginfiltrasi ke tanah,” kata Andi.

Karenanya Andi berpesan kepada seluruh masyarakat di Riau, untuk meningkatkan gotong royong membersihkan saluran air, drainase serta tidak membuang sampah sembarangan.

“Karena itu, kita harapkan juga seluruh masyarakat Riau untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim penghujan, terutama bagi masyarakat yang berada di bantaran sungai dan kawasan tanah longsor. Kita juga sudah menyiagakan seluruh jajaran yang ada, TNI/Polri, BPBD, Basarnas, tim kesehatan,” tutup Andi.

Source :

Detik

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


20 − 18 =