Kekeringan Tahun Ini Bisa Lebih Parah

Source: Internet

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Tanah Air pada tahun ini akan lebih parah dari tahun sebelumnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan dibandingkan dengan periode 2016, kekeringan pada 2017 ini lebih parah. Sebab, pada 2016 lalu terjadi La Nina sehingga masih banyak hujan di musim kemarau.

“Namun, saat ini musim kemarau berlangsung normal dan umumnya berlangsung hingga Oktober dan puncaknya pada September,” katanya saat dihubungi, Minggu (3/9).

Dia menyatakan kekeringan yang terjadi saat ini di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Timur karena di daerah yang defisit air. “Artinya, ketersediaan air yang ada tidak mencukupi kebutuhan sehingga setiap musim kemarau alami kekeringan,” ucapnya.

Upaya yang dilakukan, ujar Sutopo, antara lain pengiriman air bersih serta pembuatan sumur pompa dan sumur dalam. “Untuk jangka pendek, setiap tahun dibangun sumur air tanah dalam, bak penampung air hujan, revitalisasi embung, dan lainnya,” kata Sutopo.

Sebanyak 13 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat menetapkan status darurat kekeringan. Beberapa wilayah di Jawa Barat yang kekeringan, di antaranya Kabupaten Bekasi, Indramayu, Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Purwakarta, sedangkan di Jawa Tengah, kekeringan lebih banyak.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Krido Suprayitno, mengemukakan curah hujan semakin rendah dan banyak daerah mengalami kekeringan. Dilaporkan, kekeringan yang diikuti dengan menurunnya debit air pada embung membuat warga semakin sulit dapatkan air bersih.

Titik Panas

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Oto Sukisno, mengungkapkan satelit Tera dan Aqua memantau 71 titik panas yang diindikasikan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan hari sebelumnya, yaitu 67 titik panas.

Sukisno mengatakan Sumatera Selatan menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak, yaitu mencapai 31 titik. Disusul Bangka Belitung sebanyak 16 titik, Lampung sebanyak delapan titik, Jambi empat titik, Bengkulu satu titik, dan Kepulauan Riau satu titik. Sementara itu, di wilayah Riau terpantau sembilan titik.

Sedangkan BMKG Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat untuk mewaspadai kebakaran lahan yang berpotensi terjadi di beberapa daerah yang terdeteksi satelit memiliki titik panas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


one × 1 =