Pakar Lingkungan, Elviriadi: RTRW Pertaruhan Kemuliaan

Source: Internet

 

Sejak penundaan pengesahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) seminggu lalu, belum terlihat manuver konstruktif dari publik. Ini merupakan momen-momen penting yang sangat menentukan. Dibutuhkan kemulian hati agar semangat terus memanfaatkan momen menegangkan menjelang pengesahan RTRW.

Demikian disampaikan pakar lingkungan DR Elviriadi MSi, saat berbincang-bincang dengan GoRiau, Sabtu (16/9/2017).

Kata Elviriadi, kemuliaan yang ia maksud adalah jiwa besar pemimpin sejati. Pemimpin yang teguh hati memperjuangkan kepentingan rakyat.

Saat ini, tambah Elviriadi, laju penggundulan hutan di Riau sudah mencapai 1.500 ha pertahun sampai 2012. Hutan yang tersisa tinggal di Suaka Marga Satwa Rimbang Baling, Hutan Adat di Kampar, Hutan Sekunder di Tebingtinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, dan beberapa hektar di sepanjang bukit barisan. Eksploitasi tutupan hutan juga merambah ke lahan gambut yang memiliki ekosistem unik.

“Sebenarnya lahan gambut tak boleh diutak atik. Sebab Allah SWT menciptakan alam semesta dan permukaan bumi dengan fungsi dan keistimewaan masing-masing,” ujar dosen UIN Suska Riau itu kepada GoRiau.

Katanya lagi, dalam RTRW Riau fakta-fakta miris di atas belum cukup serius dibahas. Landskap tata ruang yang terdesain di skema pemanfaatan ruang dalam Pansus RTRW itu kontradiktif dengan keinginan Riau bebas bencana. Dimana, data spasial dan pola ruang RTRW ini justru mengundang bencana asap dan banjir bandang, serta longsor.

“Waaaah sungguh gawat,” kata pria yang mulai hobi menggunduli kepala sebagai simbol gundulnya hutan di Provinsi Riau.

Masih menurut Elviriadi, untuk memperbaiki itu semua perlu kemulian hati. Seperti pendiri bangsa ataupun seperti generasi hari ini yang pemberani, ikhlas berjuang dan martir kesejahteraan rakyat. “Saya lihat ibu Menteri Siti Nurbaya bagian dari generasi yang cinta lingkungan. Produk regulasi KLHK dibuat pro gambut dan ia rela pasang badan demi rakyat,” imbuhnya.

Alumni UKM Malaysia itu pun mengajak ketua DPRD Riau, Gubernur Riau, Koalisi Rakyat Riau (KRR) dan BEM agar tidak takut pada kejahatan ekologis di rantau Riau. Sifat kejahatan itu sejak zaman baholak tetap sama, yaitu tampak rapi, sukar dilewati, tampak kuat, dan seringkali menggentarkan hati orang yang lemah iman.

“Hanya kemuliaan pribadi bertauhid yang sanggup menggusur kebathilan demi masa depan hutan anak cucu kita nantinya,” pungkas pengurus Muhammadiyah Riau itu di akhir bincang-bincang dengan GoRiau.

Source :

Go Riau

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


twenty − fifteen =