Rawan! Riau Siaga Ancaman Banjir dan Longsor

Source: Internet

 

Selain kebakaran hutan dan lahan, Riau juga rawan bencana banjir dan longsor.

Sebab provinsi ini dibelah empat sungai besar dan memiliki dua kali musim hujan dalam setahun.

Sehingga bencana banjir juga rutin juga terjadi hingga 2 kali setahun.  Yaitu di periode awal tahun dan di periode akhir tahun.

Sedangkan untuk longsor merupakan insidentil di beberapa wilayah dan waktu tertentu.

Sebagaimana data yang dihimpun BPBD, banjir di tahun 2017 ini telah menyebabkan 8 korban jiwa di Pelalawan dan Indragiri Hulu.

Selain itu sebanyak 756 jiwa mengungsi di kabupaten Indragiri Hilir, Kampar, Rokan Hulu dan Pelalawan. Serta ribuan rumah terdampak akibat bencana banjir di berbagai kabupaten di Provinsi Riau ini.

Sedangkan bencana longsor mengancam 8 desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu dan Kampar Kiri.

Dimana longsor menutupi ruas jalan atau akses utama yang menghubungkan ke-8 desa tersebut dengan daerah lain.

Peristiwa ini telah terjadi dalam 2 tahun belakangan ini secara berturut-turut.

“Oleh karena itu kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam pengurangan risiko bencana banjir dan longsor sehingga dapat mengurangi korban dan kerugian seminimal mungkin,” ujar Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman usai apel siaga pasukan banjir Selasa (27/11).

Selain curah hujan yang tinggi, bencana banjir dan longsor juga disebabkan perusakan dan penggundulan hutan atau kawasan tangkapan hujan di hulu.

Air hujan banyak yang tidak terserap, sehingga air-air tersebut akan turun menuju sungai. Jika air dalam volume besar, maka sungai tidak dapat menampung air yang sangat berlebih tersebut.

“Sehingga air tersebut akan meluap ke daerah daerah yang rendah yang akan mengakibatkan banjir terjadi. Selain itu, akibat dari penebangan hutan di hulu akan membuat tanah menjadi mudah longsor dan menjadi bencana bagi penduduk terdekat,” kata Andi.

Kemudian perubahan sistem drainase pembuangan air. Suatu daerah yang biasanya tidak banjir akan menjadi langganan banjir jika di sekitar daerah itu melakukan sesuatu yang mengubah sistem drainase yang sudah ada tanpa AMDAL.

“Seperti peninggian masal suatu wilayah rendah untuk pembangunan komplek perumahan baru, menyempitkan saluran air yang ada untuk suatu pembangunan, “jelasnya.

Tidak hanya itu, saluran air mampet jika got, selokan, dan parit-parit mampet, maka akan sangat mudah meluapnya air ke daerah penduduk atau di jalanan. Sebab, volume air yang berlebih tidak dapat disalurkan melalui saluran atau selokan yang mampet yang akan lebih mudah menyebabkan terjadinya banjir.

“Tidak adanya keperdulian untuk membersihkan secara berkala terhadap got, selokan, parit dan saluran air lainnya akan menyebabkan saluran tersebut suatu saat menjadi mampet,”jelasnya.

Kemudian kebiasaan warga membuang sampah sembarangan. Inilah salah satu faktor penyebab dimana sungai-sungai, selokan maupun parit tidak mampu menampung jumlah volume air yang banyak. Sungai-sungai dan selokan menjadi sempit dan terhenti arusnya karena sampah-sampah yang banyak dan menyumbat arus air di sungai maupun di selokan.

“Makanya satu-satunya cara kita harus persiapkan dari awal dan antisipasi sejak dini, “ujarnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


eight + seven =