Amorphophallus Gigas Ditemukan “Mekar” di Kampar Riau

photo: tribunjateng/khoirul muzaki

 

Di kawasan Pantian Mutan, Desa Pulau Terap Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar, Provinsi Riau kembali “semerbak” dengan “mekarnya” tumbuhan langka yang diketahui bernama latin amorphophallus gigas atau biasa disebut bunga bangkai.

Dino Ari Taba, warga yang sedang mendokumentasikan track Kampar Adventure Day yang bakal digelar bulan depan di wilayah itu, kaget melihat bunga bangkai yang menjulang tinggi. Diperkirakan sekitar 3 meter.

“Kebetulan dua hari lalu kami sedang mendokumentasikan track Kampar Adventure Day. Pas sedang di kawasan Pantian Mutan, nampak lah tumbuhan itu. Saya baru pertama kali melihat tumbuhan semacam itu,” kata Dino yang juga tenaga honor di Dinas Kominfo Kampar, Riau, kepada Gatra.com, Selasa (23/10).

Menurut Dino dia bersama beberapa rekannya menemukan tiga batang. Satu sedang kuncup, satu lagi sudah mekar, sisanya sudah layu.

“Dua pohon tumbuh berdekatan, satu lagi yang ada tidak jauh dari dua yang pertama,” katanya.

Kepala Seksi Wilayah III Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Bintang Hutajulu, mengatakan kalau amorphophallus gigas memang banyak ditemukan di wilayah Kampar hingga Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).

“Di Kampar sendiri, tumbuhan ini banyak ditemukan di Cagar Alam Bukit Bungkuk, Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang Baling di Kampar Kiri Hulu,” katanya.

Tahun lalu kata Bintang, tim BBKSDA menemukan tanaman yang sama di Bukit Bungkuk. Ada dua batang. Yang pertama setinggi 4,3 meter dan satu lagi 3,5 meter. Kabarnya, tanaman ini menjadi yang tertinggi di dunia.

“Kalau yang di Pulau Terap itu, enggak masuk dalam kawasan,” katanya.

Bintang menyebut, amorphophallus gigas adalah tumbuhan endemik yang sampai saat ini belum termasuk tumbuhan dilindungi. Biasanya hidup di kawasan-kawasan tanah yang lembab.

Tumbuhan ini punya siklus hidup yang tergolong cepat meski dalam proses tumbuh dari umbi hingga bunga layu, butuh waktu sekitar 20 tahun.

“Kalau bunganya sudah layu, otomatis batangnya juga ikut layu dan mati. Namun umbinya yang berada di dalam tanah masih hidup. Dari situlah nanti tumbuh lagi tunas baru,” katanya.

Bintang menyebut sekalipun tanaman itu belum dilindungi, ada baiknya masyarakat dapat menjaga tumbuhan langka itu dengan tidak merusaknya.

“Selain cantik, tumbuhan ini kan langka,” katanya.

Source :

gatra

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


5 × 5 =