Dilema Pengrajin Batu Bata di Pulau Rupat Bengkalis

Foto:riaugreen

 

Cara untuk bertahan hidup karena sesungguhnya tuhan telah menyiapkan segala sesuatu kebutuhan hambanya di atas muka bumi ini. Bagi masyrakat yang tidak tamat sekolah, pengangguran, menjadi pengrajin batu bata bisa menjadi sebuah pilihan.

Bekerja sebagai pengrajin batu bata telah menjadi salah satu mata pencarian masyrakat Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis. Dalam proses masyarakat yang menekuni pekerjaan ini, kerap kali menemukan berbagai macam masalah.

Salah satu hal yang kerap menjadi penghambat pengrajin batu bata adalah masalah banjirnya batu bata. Ini di karenakan jarangnya masyrakat yang sekarang memakai batu bata dan beralih menggunakan batako (batu bata dari semen).

Hal ini membuat ketidakstabilan produktivitas masyarakat di dalam membuat batu bata merah (batu bata dari tanah). Batu bata yang sudah siap di jual di bawa ke Dumai atau di jual di depan rumah si pemilik batu bata tersebut.

Butet (45), salah satu pengrajin batu bata mengatakan ia hidup dan makan dari hasil pengrajin batu bata. Banyak suka dan duka yang saya alami sebagai masyrakat kecil yang Cuma bisa bekerja sebagai pengrajin batu bata.

“Saya bekerja sudah 10 tahun banyak yang sudah saya lewati seperti batu bata banjir dan tak ada yang beli. Pernah dulu batu bata yang saya jual berminggu-minggu di depan rumah sepi pembeli. Jika tak ada yang beli terpaksa ngutang dulu ke warung untuk makan dan jajan anak sekolah. Apalagi anak saya sekarang masi ada yang kuliah,saya menghidupi anak dan bayar sekolah anak dengan uang pengrajin batu bata,” tutupnya.

Source :

riaugreen

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


nineteen + eleven =