Jaga Kawasan Konservasi, 3 Lembaga Launching Patroli Satwa

Source: Internet

 

Saat ini luasan hutan di sejumlah kawasan di Riau mulai. Padahal, hutan merupakan habitat satwa liar dan dilindungi. Kondisi ini memaksa beberapa jenis satwa masuk ke kawasan pemukiman warga atau kebun masyarakat. Tidak jarang satwa-satwa tersebut terkena jerat yang dipasang warga, dan bahkan bentrok fisik dengan warga. Konflik antara manusia dan satwa pun tidak bisa dihindari, yang paling menonjol adalah konflik  manusia dengan gajah Sumatera.

Atas kondisi ini, tiga lembaga yang tergabung dalam satu konsorsium yakni, WWF, Yayasan Tesso Nilo dan Himpunan Penggiat Satwa (Hipam) yang didukung oleh BBKSDA Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN) dan TFCA Sumatera, me-launching Patroli Satwa atau The Threat Hunter di Rindu Sempadan pada Jumat (29/9). Saat itu juga digelar Pelatihan dan Pemantapan Patroli Satwa.

Launching ditandai dengan penyerahan perlengkapan patroli berupa sepeda motor, ransel, GPS, kamera dan semua perlengkapan lapangan oleh Kepala BTNTN, Supartono didampingi Direktur Yayasan Taman nasional Tesso Nilo, Yuliantony dan Koordinator Patroli Jon Hendra.

Pada kesempatan itu, Supartono berpesan kepada para petugas patroli agar memetakan pergerakan gajah, dan mendokumentasikan data-data yang diperoleh di lapangan selama patroli.

“Petakan pergerakan gajah dan amati perilaku gajah. Bila data tersebut terdokumentasi, dengan baik, kita bisa mengantisipasi kedatangan gajah di satu wilayah,” ungkap Supartono.

Sebelum launching, selama tiga hari tanggal 26-29 September, 16 orang petugas patroli diberi pembekalan oleh sejumlah narasumber dari berbagai bidang terkait di Hotel Rindu Sempadan. Mereka diberikan materi terkait Konservasi dan Perlindungan oleh BBKSDA Riau dan BTNTN. Materi Metodologi Patroli dengan SMART oleh WWF. Materi terkait SAR, Survival, Navigasi Darat dari Basarnas, dan materi tentang Kesehatan Satwa khususnya gajah oleh dokter hewan WWF, fotografi dan lainnya.

Koordinator Program, Yuliantony kepada Tribunpekanbaru.com pada kesempatan itu menyebutkan, dalam pelatihan, petugas patroli juga melakukan simulasi patroli di Tahura Sultan Syarif Kasim guna mencari temuan-temuan penting untuk dilaporkan.

“Tim Patroli Satwa itu akan mengidentifikasi keberadaan satwa, potensi ancaman dan mitigasi konflik satwa dan manusia. Bila ada satwa yang masuk ke kebun atau kampung, tim akan membantu menghalau. Untuk gajah, pengusiran bisa dilakukan dengan bantuan gajah jinak yang ada di lokasi terdekat,” ungkap Yuliantony.

Menurut Yuliantony, tim patroli secara rutin dan terencana berkeliling di kawasan yang menjadi tanggungjawab mereka yakni, kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Cagar Biosfer dan Suaka Margasatwa Balai Raja.

“Petugas patroli saat ini berjumlah 16 orang berasal dari tiga lembaga. Semoga dengan adanya Tim Patroli Satwa, konflik antara gajah dan manusia yang selama ini banyak terjadi bisa diminimalisir. Sekaligus bisa mengidentifikasi jenis satwa yang ditemui selama patroli serta menemukan perambahan kawasan,” jelas Yuliantony.

Kepala Bidang Wilayah II BBKSDA Riau, Heru Sudmantoro pada kesempatan itu kepada Tribunpekanbaru.com menyebutkan, luas hutan tropis di Indonesia adalah yang terbesar ketiga di dunia dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Kelestariannya harus dijaga untuk keseimbangan alam.

“Tugas menjaga adalah tugas bersama, baik pemerintah, penggiat lingkungan dan seluruh elemen masyarakat. Kita sudah kehilangan dua spesies satwa yakni Harimau Jawa dan Bali. Jangan sampai kehilangan satwa langka lainnya karena habitatnya yang terdegradasi,” ungkap Heru.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


10 − 5 =