Menebak Arah Pemilih Tidak Loyal, ke Mana Bakal Berlabuh?

Foto:thepressweek

 

Dua nama calon wakil presiden (cawapres) yang diumumkan beberapa hari lalu oleh dua calon presiden (capres) sungguh mengejutkan. K.H. Ma’ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno adalah dua nama yang sebelumnya tidak diprediksi bakal menjadi cawapres.

Meski berinisial “M”, seperti Moeldoko dan Muhaimin Iskandar, nama Ma’ruf tidak pernah disebut dan mengemuka sebagai bakal cawapres Jokowi. Menjelang deklarasi capres-cawapres, nama Mahfud MD yang justru santer diembuskan sebagai bakal wakil Jokowi.

Di pihak Prabowo Subianto, nama Sandiaga Uno juga baru yang dimunculkan di menit-menit terakhir. Sebelumnya justru Salim Segaf Aljufrie, Ustad Abdul Somad, sampai Agus Harimurti Yudhoyono yang masuk radar sebagai kandidat cawapres Prabowo Subianto.

Namun, banyak juga yang tidak menduga, justru setelah deklarasi bersama Prabowo, Sandiaga mengambil peran, langsung memainkan strategi politik yang ciamik. Ia berjanji merepresentasi partai emak-emak dalam upaya mendapatkan simpati dari kalangan ibu-ibu. Dan strategi itu berhasil. Banyak unggahan di dunia maya yang mendukung Sandi.

Upaya Berebut Simpati

Di kubu Jokowi, ada yang kecewa, ada yang gembira ketika ia memilih Ma’ruf Amin. Bagi sebagian kalangan, sosok Ma’ruf Amin dianggap mampu menangkal isu SARA dan sentimen agama yang selama ini menyerang Jokowi. Bagi sebagian yang lain, sosok Ma’ruf bisa menurunkan elektabilitas Jokowi karena beberapa kali Ketua MUI itu membuat keputusan yang kontroversial terkait minoritas di Indonesia.

Tentu ini membuat pemilih tidak loyal Jokowi menjadi galau. Pastinya menjadi sulit, ketika di satu sisi mereka ingin Jokowi dua periode, di sisi lain cawapres yang mendampingi ternyata mengecewakan.

Bagi sebagian kalangan lainnya, pilihan Ma’ruf Amin adalah jalan tengah ketika masing-masing partai pendukung Jokowi mengajukan calon. Apalagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak awal menginginkan posisi cawapres dengan mengajukan nama Muhaimin.

Kekecewaan terhadap piihan Jokowi, bukan hanya karena sosok Ma’ruf yang dianggap tidak berpihak pada minoritas, tetapi juga diragukan mampu memperbaiki perekonomian Indonesia. Segi usia juga menjadi pertimbangan mereka yang tidak loyal dalam menetapkan pilihan. Tak dipungkiri sosok pemimpin muda usia masih dianggap sebagai yang potensial melakukan perubahan.

Sosok Ma’ruf memang tidak diragukan rekam jejaknya. Punya pengalaman di pemerintahan dan di dunia politik menjadi nilai tambah. Namun, bagaimana dengan sederet keputusan kontroversial yang pernah dibuat, seperti melarang ucapan Natal atau perayaan hari besar agama lain? Menurut Ma’ruf, ucapan selamat tersebut masih menimbulkan kotnroversi, jadi sebaiknya dihindari. Padahal ada pendapat berbeda, jika hanya ucapan selamat saja, tidak menggerus nilai-nilai akidah seseorang.

Kontroversi Ma’ruf lainnya adalah ketika melekatkan Ahmadiyah adalah aliran sesat. Pelabelan “sesat” tersebutlah yang kemudian seolah menjadi alat bagi masyarakat luas untuk melakukan tindakan diskriminatif terhadap anggota atau pengikut aliran Ahmadiyah. Bagi pegiat HAM, tentu ini menjadi “luka” tersendiri.

Selanjutnya, adalah ucapan Ma’ruf terkait komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Ma’ruf mengatakan bahwa MUI menolak tegas segala propaganda, promosi, dan dukungan terhadap LGBT di Indonesia. Apalagi ketika itu santer beredar kabar bahwa ada dana sosialisasi dari organisasi internasional untuk LGBT di Indonesia.

Lewat Ma’ruf, MUI menyatakan melarang aktivitas LGBT dan aktivitas seksual menyimpang serupa, serta mendukung adanya pidana terhadap setiap pelakunya. Ucapan inilah yang menimbulkan polemik, apalagi dikaitkan dengan HAM. Sejumlah pihak kecewa, seharusnya pidana itu dijatuhkan bukan kepada mereka yang punya orientasi seksual yang berbeda, tetapi terhadap pelaku pedofilia atau kekerasan lainnya.

Terakhir, Ma’ruf memberi kesaksian yang memberatkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan agama, beberapa waktu lalu. Ma’ruf mengatakan bahwa Ahok adalah penista agama. Di sinilah yang membuat pendukung Ahok kemudian kecewa. Apalagi sebagian dari mereka adalah juga pemilih tidak loyal Jokowi.

Belum Bisa Diprediksi

Sementara itu, Ahok secara terbuka sudah memberi dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf. Ahok tak ambil pusing dengan kesaksian memberatkan Ma’ruf yang mengantarkannya ke penjara.

Menjadi pertanyaan, bagaimana dengan pendukung Ahok dan para pemilih tak loyal? Apakah kemudian mereka juga akan ambil sikap yang sama dengan Ahok? Sebagian bisa jadi iya, tetapi sebagian lainnya bisa jadi tidak.

Belum dapat diprediksi ke arah suara pemilih tak loyal ini. Untuk menjadi pendukung Prabowo rasanya berat. Sebab Prabowo juga diduga tersandung masalah HAM 1998 yang belum tuntas sampai sekarang. Apalagi beredar kabar tentang dana yang digelontorkan sejumlah Rp 500 miliar untuk dua partai pendukungnya, PKS dan PAN.

Masih ada waktu bagi Jokowi untuk meraih kembali simpati para pemilih tak loyal ini. Prabowo juga punya kesempatan untuk mengambil suara tersebut. Jika tidak? Kemungkinan selanjutnya adalah angka golput yang meningkat.

Source :

thepressweek

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


two + 7 =