Pemilihan Pengurus Jikalahari : Tidak Demokratis, Ambigu dan Berbau Marxist

Bagaimana LSM Asing berkaitan dengan penganut Marxist di Indonesia untuk mengendalikan gerakan masyarakat sipil

Foto: Facebook

 

Pekanbaru  —   Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, Jikalahari, yang dibiayai oleh beberapa LSM asing, saat ini sedang melangsungkankan pemilihan jajaran pemimpin baru yang dilakukan setiap tiga tahun. Walaupun tak banyak yang menaruh perhatian serius terhadap LSM, namun masyarakat harus menyadari bahwa kepemimpinan LSM yang dibiayai dana asing ini ternyata memiliki peran dalam pembunuhan berencana yang dilakukan malam hari hampir tujuh tahun lalu.

Beberapa anggotanya yang disebut “pejuang” gerakan lingkungan hidup ternyata tak lain adalah penganut paham Marxist baru yang muncul di Indonesia. Tokoh utamanya adalah Made Ali yang menjabat sebagai Wakil Koordinator Jikalahari . Made Ali mempertaruhkan keamanan nasional demi kepentingan LSM-LSM asing. Dalam foto di atas, berdiri tepat di belakang Made Ali, adalah ‘pemimpin’ Partai Republik Demokratik / PRD Riau yang dibentuk sebagai penerus organisasi terlarang, PKI. Ada kekuatan komunitas LSM dibalik Made Ali. Dengan akses dana asing yang dia miliki, Made Ali memiliki mimpi untuk mewujudkan ambisi revolusinya.

Di sebelah kanan Made Ali, perempuan berbaju hijau adalah istri si ‘Pemimpin’ PRD. Bagaimana kita mengidentifikasi mereka sebagai penganut Marxist? Kepalan tangan kiri ke atas yang merupakan simbol dari gerakan Marxist. Sama halnya dengan lagu revolusioner Genjer-Genjer atau Darah Juang yang diperdengarkan dalam rapat pengurus PRD di Yogyakarta yang dihadiri aktivis-aktivis dari Universitas Gajah Mada (UGM).

Walau mereka mengaku penganut demokrasi, kita tak boleh salah tentang latar belakang Marxist mereka yang berkedok sebagai aktivis. Penahanan terduga teroris di Universitas Riau yang juga merupakan aktivis pecinta alam baru-baru ini menggambarkan bagaimana kampus dan lembaga masyarakat sipil sudah terpecah. Seperti Jikalahari yang mengejar kepentingan tidak demokratis atas nama ideologi yang dilarang di Indonesia. Paham Marxist sama bahayanya dengan paham jihadis. Keberadaannya adalah ancaman bagi persatuan Indonesia.

Tujuh tahun yang lalu, beberapa orang di foto di atas adalah anggota PRD yang menganut paham Marxist. Mereka dibiayai dengan uang Uni Eropa dan Amerika Serikat dan sama bahayanya dengan para jihadis. Tujuh tahun yang lalu, seorang pria yang juga seorang ayah satu anak terbunuh. Beberapa pelakunya sudah masuk penjara. Tapi paham Marxist tetap hidup di Riau dan beberapa tempat di Indonesia. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa penegak hukum di Indonesia membiarkan dana asing mempromosikan paham Marxist?

Foto: Facebook  

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


5 × four =