Penangkapan terduga teroris di Riau

Foto:Wahyu Putro A /Antara Foto

 

Provinsi Riau sepertinya tak hentinya menjadi lokasi penangkapan terduga teroris. Seusai penggerebekan terduga teroris di kampus Universitas Riau, Kota Pekanbaru, Juni lalu, Detasemen Khusus 88 Anti Teror kembali menangkap lima terduga teroris di sejumlah tempat di Kota Pekanbaru, Riau.

Para terduga teroris tersebut diduga terlibat dalam rencana penyerangan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok pada Mei 2018 lalu. Polisi menyebutkan lima terduga teroris di Pekanbaru itu memiliki peran sebagai koordinator, penyandang dana hingga perekrutan.

“Benar telah dilakukan penangkapan terhadap lima orang terduga teroris di wilayah Riau oleh tim Densus 88 Polri dibantu Polda Riau,” kata Kepala Bidang Humas Polda Riau, Komisaris Besar Sunarto, dilansir Antaranews, Sabtu (28/7/2018).

Polisi menduga beberapa dari terduga teroris yang ditangkap tersebut merupakan bagian dari jemaah ansharut daulah (JAD). Jaringan itu sebelumnya juga pernah melancarkan aksi terorisme di Mapolda Riau, beberapa waktu lalu.

Dari penangkapan itu, sempat terkuak adanya penyandang dana yang memberangkatkan mereka untuk melakukan aksi tersebut. Penyandang dana itu disebut-sebut bernama D.

D, terduga jaringan teroris yang ditangkap Densus88 itu, dikenal sebagai sosok yang religius serta memiliki pergaulan yang baik dengan masyarakat. Johnson Tobing, mengatakan bahwa D (46) merupakan sosok yang dituakan dan disegani di lingkungannya.

Johnson mengatakan D telah tinggal di Kelurahan Perhentian Marpoyan sejak 2006 lalu. D disebut sebagai sosok yang sangat ramah kepada masyarakat dan di PT PLN. Dari rumah D, polisi menyita sejumlah barang bukti seperti laptop, ponsel, buku-buku dan beberapa kotak kardus.

Majemen PT PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau membenarkan terduga teroris D merupakan karyawan pada perusahaan mereka.

“Terkait adanya pemberitaan tentang penangkapan teroris saudara D, benar merupakan salah seorang karyawan PLN,” kata Manajer SDM dan Umum PT PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau Habibollah melalui surat elektroniknya kepada Antaranews, Minggu (29/7/2018).

Penangkapan lima terduga teroris itu kian menambah tangkapan Densus88 di Riau. Selama tiga bulan terakhir, Densus88 menangkap 13 terduga teroris.

Pada periode Mei-Juni 2018, polisi menangkap delapa orang, empat di antaranya tewas karena melakukan perlawanan dalam peristiwa penyerangan di di Mapolda Riau Mei lalu.

Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Polda Riau juga pernah menangkap tiga orang terduga teroris dan menyita sejumlah barang yang diduga bom dari kampus Universitas Riau, Kota Pekanbaru, pada 2 Juni lalu. Polisi mengungkapkan target para terduga teroris itu adalah peledakan di Gedung DPR dan DPRD Provinsi Riau.

Tiga terduga teroris berinisial Z, B, dan K, ditangkap tim gabungan di Gedung Gelanggang Mahasiswa FISIP Universitas Riau. Mereka adalah alumni Universitas Riau Jurusan Pariwisata, Komunikasi dan Administrasi Negara angkatan 2002 hingga 2005.

Dari tangan ketiganya, polisi menyita empat bom rakitan yang memiliki daya ledak tinggi. Polisi juga menyita sejumlah serbuk-serbuk bahan pembuat bom dari gedung yang merupakan sekretariat bersama kelembagaan mahasiswa itu. Ada juga senapan, busur, anak panah serta granat tangan rakitan.

Polri gencar menangkap sel-sel terduga teroris di berbagai daerah setelah kejadian teror di Surabaya Mei 2017 dan pengesahan UU Antiterorisme baru.

Penangkapan terus berlangsung sampai sekarang, beberapa pekan sebelum Asian Games, tetapi kejadian teror di Indonesia seperti tak pernah berhenti dan dapat terjadi kapan saja.

Data dari National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism yang diolah Lokadata Beritagar.id mencatat 751 aksi terorisme di Indonesia selama 1997 sampai Juli 2018. Seperempatnya adalah aksi sentimen agama.

Source :

beritagar

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


seventeen + 4 =