Ping Kotak Hitam Memudar, Pencarian Korban Lion Air JT610 Diakhiri

Foto: Mata Mata Politik

 

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) Indonesia telah mengakhiri pencarian korban pesawat Lion Air JT 610, pesawat naas yang jatuh ke Laut Jawa sekitar dua pekan lalu. Sementara itu, para penyelam yang berusaha mencari perekam suara kokpit menghadapi tantangan baru ketika sinyal elektronik dari perangkat tersebut memudar.

Tugas mencari korban selamat atau sisa-sisa jenazah mereka telah diserahkan kepada tim lokal, tutur kepala BNPP Muhammad Syaugi dalam sebuah pernyataan hari Sabtu (10/11). Secara terpisah, mesin baru pelacak bawah air dengan sensitivitas yang lebih baik untuk mendeteksi ping dari kotak hitam telah siap untuk digunakan membantu pencarian.

“Suara ping semakin sulit dideteksi dan kian menghilang,” kata wakil kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia Haryo Satmiko dalam pesan teks hari Sabtu (10/11). “Kami menduga perekam suara kokpit tertutup oleh lumpur karena perekam data penerbangan, ketika ditemukan, terkubur sekitar setengah meter di dalam lumpur.”

Para anggota keluarga dan kolega korban penerbangan Lion Air JT610 selama kunjungan ke situs jatuhnya pesawat pada tanggal 6 November 2018. (Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti)

Jika alat pelacak baru gagal, panitia tim evakuasi akan mengerahkan kapal dengan kemampuan sedot lumpur untuk mencoba mengevakuasi perekam suara. Perekam suara akan membantu para penyelidik menyatukan serangkaian momen-momen terakhir sebelum pesawat Lion Air JT-610 jatuh menukik ke dalam laut bersama 189 orang di dalamnya pada tanggal 29 Oktober 2018.

Temuan awal berdasarkan informasi dari perekam data, yang telah ditemukan, mengindikasikan adanya hambatan teknis terkait dengan kesalahan dalam pembacaan kecepatan udara.

Hal itu mendorong Boeing Co., perusahaan pembuat pesawat, untuk memperingatkan setiap maskapai penerbangan yang menggunakan pesawat seri Boeing 737 Max di seluruh dunia bahwa sensor aliran udara dapat memberikan pembacaan palsu dalam keadaan tertentu.

Evakuasi roda pendaratan pesawat Lion Air JT610 tanggal 5 November 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Azwar Ipank)

Pasar maskapai penerbangan domestik Indonesia telah mengalami kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir untuk menjadi yang terbesar kelima di dunia. Lalu lintas udara lokal meningkat hingga lebih dari tiga kali lipat antara tahun 2005 dan 2017 hingga 97 juta orang, menurut CAPA Center for Aviation, dan didominasi oleh maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia maupun Lion Air Group.

Maskapai penerbangan lokal telah berjuang dengan masalah keamanan, sebagian sebagai akibat dari kecepatan ekspansi itu, serta masalah yang melekat pada wilayah medan berupa pegunungan, badai petir khatulistiwa, dan infrastruktur penerbangan yang seringkali terbelakang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


three + 17 =