Rupiah Terus Menukik, Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga untuk Kelima Kalinya

Photo: Guritanews

 

Bank Indonesia menaikkan suku bunga utamanya untuk kelima kalinya dalam enam pertemuan, waspada terhadap potensi depresiasi mata uang lebih lanjut setelah Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya untuk ketiga kalinya tahun ini.

Bank Indonesia pada hari Kamis memutuskan untuk menaikkan suku bunga repo tujuh hari menjadi 5,75 persen dari 5,50 persen. Bank sentral Indonesia tersebut telah meningkatkan suku bunga pada semua pertemuan, kecuali satu, sejak Mei, meningkatkannya dengan 150 basis poin gabungan karena berusaha untuk membendung penurunan nilai tukar rupiah.

“Sikap BI tetap agresif, penuh pencegahan dan antisipatif,” kata Perry Warjiyo, gubernur Bank Indonesia, pada konferensi pers setelah pertemuan kebijakan moneter. “Tetapi (implementasinya) sangat tergantung pada perkembangan dan dinamika ekonomi global dan domestik, termasuk perkembangan normalisasi Fed, ketegangan perdagangan dan perilaku investor global dalam hal Indonesia. Bagaimana kebijakan kami akan di bulan depan atau sesudahnya? Ini akan sangat tergantung data.”

Meskipun ada kenaikan suku bunga bank sentral serta langkah-langkah pemerintah untuk melindungi mata uang—meningkatkan pajak atas importir lebih dari 1.000 barang konsumsi dan memperluas penggunaan biodiesel untuk mengekang impor, di antara langkah-langkah lain—telah dilakukan, rupiah telah jatuh lebih dari sembilan persen sejak awal tahun ini.

Investor menjual aset rupiah karena krisis di pasar negara berkembang lainnya memicu kekhawatiran penularan. Perang dagang yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan China juga menekan sentimen investor.

Nilai tukar rupiah mencapai angka Rp15.016 terhadap dolar AS pada awal September, level terendah terhadap dolar AS sejak krisis keuangan Asia (krisis moneter) pada tahun 1998.

Kenaikan terakhir Bank Indonesia sebagian merupakan respon terhadap kenaikan the Fed sehari sebelumnya. Suku bunga acuan federal fund dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 2,00 persen—2,25 persen, yang dapat dialihkan ke dalam dolar yang lebih kuat dalam waktu dekat.

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan baru pekan lalu ketika negara kepulauan itu mencatat defisit perdagangan $1,02 miliar untuk Agustus, lebih besar dari yang diperkirakan pasar. Defisit kumulatif lebih dari $3 miliar untuk dua bulan pertama dari kuartal saat ini lebih dari dua kali lipat defisit current-account yang tercatat untuk kuartal sebelumnya dan “tidak menjadi pertanda baik untuk mata uang,” Kunal Kundu, ekonom di Societe Generale, mengatakan dalam laporan.

Berkat upaya Jakarta untuk mengekang inflasi, seperti subsidi bahan bakar yang diperbarui, harga relatif stabil, dengan tingkat inflasi tahunan bulan Agustus di 3,20 persen, jauh di kisaran target Bank Indonesia 2,5 persen hingga 4,5 persen.

Penurunan lebih lanjut dalam mata uang, bagaimanapun, dapat menaikkan biaya impor dan memberikan tekanan atas inflasi total. Ini adalah sesuatu yang Presiden Joko Widodo, yang mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua dalam pemilihan presiden tahun depan, tidak inginkan.

Bank Indonesia juga memutuskan untuk memperkenalkan langkah yang disebut “Domestic Non-Deliverable Forward” dengan tujuan mengurangi volatilitas rupiah.

NDF—kontrak perlindungan nilai mata uang untuk membeli atau menjual mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan kurs yang telah ditentukan—hanya tersedia di pasar valuta asing besar seperti Singapura atau London, tetapi Bank Indonesia sekarang akan memungkinkan bagi mereka yang membutuhkan untuk melindungi mata uang untuk melakukan transaksi di pasar Indonesia.

DNDF akan diperkenalkan “untuk mempercepat pendalaman pasar valas dan menyediakan instrumen lindung nilai alternatif untuk bank dan perusahaan,” kata Bank Indonesia dalam sebuah pernyataan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


4 − three =