Sayang Sekali! Banyak Bukti Sejarah Kemerdekaan di Pekanbaru Hilang

Foto:chaidir/detikcom

 

Riau jadi salah satu daerah di Indonesia yang dijajah Jepang. Kekejaman penjajah seperti mempekerjakan romusa membangun rel kereta api sampai ke Sumatera Barat (Sumbar) sepanjang 220 Km. Sayang, bukti-bukti sejarah itu hilang dan tidak dipedulikan pemerintah.

Jika Anda berkunjung ke Pekanbaru, maka akan mengira bahwa Jl Sudirman dari Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II hingga ke kawasan pusat kota adalah jalan poros pertama. Ternyata, jalan Sudirman ini dibangun era tahun 1970-an.

Di jaman penjajahan Jepang tahun 1942 hingga 1945, Jl protokol utama kota Pekanbaru adalah Jl Ahamd Yani saat ini. Jalan ini membentang dari Jl Cut Nyak Dien (sekitar kantor Gubernur Riau dengan Jl Sudirman) memanjang hingga mentok ke sungai Siak, atau kawasan Pasar Bawah.

“Kantor RRI yang ada di Jl A Yani itu, persis di belakangnya, dulu adalah Kantor Gubernur Jenderal Jepang, saat masih berkuasa,” kata pakar sejarah Riau, Profesor Suwardi MS dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (15/8/2018).

Lokasi Kantor Gubernur Jenderal Jepang itu, persis di pertigaan jalan A Yani dengan Jl Juanda. Di situlah perkantoran Jepang sangat megah. Di depan kantor, dulu ada tugu menyerupai Monas. Tugu itu tinggi melebihi ukuran perkantoran dan rumah yang ada di sekitarnya.

Tugu itu dulunya bertulisan huruf Jepang yang saat itu banyak yang tidak tahu apa arti dalam tulisan itu. Begitu Indonesia menyatakan kemerdekaan tahun 1945, dan Jepang takluk pada Sekutu, rakyat Riau ramai-ramai menguasai Kantor Gubernur Jenderal Jepang itu.

“Tugu yang dulunya bertuliskan huruf Jepang, lantas pemuda-pemuda kita mengubah tulisannya menjadi isi proklamasi kemerdekaan. Dulu itu menjadi kebanggaan kita,” kata Suwardi.

Tapi sayangnya, tugu itu dihancurkan dan sebenarnya ada monumen lagi di sekitar kantor Jepang itu. Tak bersisa sedikit pun, bangunan kantor dan tugu itu diratakan yang kini menjadi bangunan gedung RRI.

“Amat sangat disayangkan sekali,” kata Suwardi mantan Pembantu Rektor Universitas Riau itu.

Agar masyarakat di Riau tahu, kawasan Jl Sudirman saat ini tepatnya di Hotel Furaya yang berjarak 300 meter dari tepi sungai Siak itu dulunya adaalah stasiun kereta api pengangkut batubara dari Sumbar. Rel ini membenteng ke kawasan Tanjung Rhu, hingga berputar ke Jl Lokomotif saat ini.

Dari sana rel itu memanjang di kawasan Jl Sudirman saat ini, di sekitaran Kantor PDAM hingga ke Hotel Grand Central. Rel ini melanjutkan ke Jl Kereta Api saat ini hingga menuju ke Kab Kampar.

“Itulah jalur kereta api dulunya yang dibangun Jepang dari tahun 1942 hingga 1943. Dalam setahun mereka bisa membuat rel sepanjang 220 Km, dengan mengorbankan ribuan nyawa bangsa kita dan sebagian lagi orang Eropa,” kata Suwardi.

Andai saja jalur kereta api ini dijaga dengan baik, kata Suwardi, pemerintah sekarang mestinya tidak sibuk untuk membangun rel baru menghubungkan ke Sumbar. Cukup menapak tilas kembali jalur rel yang dulunya sudah ada. Malah di Kabupaten Kampar, rel masih tersisa dan ada lokomotif dan gadengannya teronggok menjadi besi tua di tengah perkebunan kareta masyarakat.

“Kita tidak tahu persis, mengapa saat itu pemerintah kita tidak menyelamatkan aset yang sudah ada dibangun Jepang. Besi-besi rel habis dijual masyarakat,” kata Suwardi.

Sayang Sekali! Banyak Bukti Sejarah Kemerdekaan di Pekanbaru Hilang

Semua bukti-bukti sejarah penjajahan Jepang di Riau hanya tinggal menyisahkan sekitar 3 kepala lokomotif. Sisa itu bisa dilihat di Makam Pahlawan Kerja eks rumuso di Jl Kaharudin Nasution, Simpang Tiga Pekanbaru. Satu lokomotif ada di Tanjung Rhu, di belakang rumah warga. Satu tersisa di semak belukar di Kab Kampar.

“Ya begitulah kondisinya. Padahal kita sudah punya jalur rel yang menghubungkan ke Sumbar. Bukti-bukti sejarah itu hilang begitu saja, padahal darah, nyawa dan derita dipertaruhkan rakyat kita membangun jalur itu,” kata Suwardi.

Source :

detik

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


two × four =