Tangis Gajah Jadi ‘Cambuk’ Konservasi bagi Dokter Wandha

Foto: AFP PHOTO / Thanh NGUYEN

 

Ketika seekor gajah betina bernama Lisa menitikkan air mata di hadapannya, tak ada lagi keraguan dalam diri Wandha sebagai dokter hewan.

Kontak batin yang disampaikan melalui tetes air mata Lisa berhasil membuat Wandha jatuh cinta dengan dunia fauna.

Wandha pertama kali berkenalan dengan Lisa ketika ia belum menerima gelar dokter hewan dan masih duduk di bangku kuliah. Kala itu Lisa sedang mengandung.

“Waktu fase koas ada dua pilihan yang diberikan kampus, antara hewan ternak atau margasatwa. Saya memilih margasatwa, karena saya rasa margasatwa punya tantangan tersendiri,” ungkap Wandha ketika dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon pada Kamis (27/9).

Berkat rasa penasaran dan dorongan diri sebagai pecinta satwa, Wandha menjatuhkan pilihan pada World Wide Fund for Nature atau WWF Indonesia untuk menghabiskan waktu magangnya.

Ia mengaku fokus kerja ‘The Flying Squad’ adalah salah satu daya tarik yang mendorong keputusan mengabdi bersama organisasi non-pemerintah itu.

The Flying Squad adalah julukan bagi pasukan gajah pencegah konflik di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.

Tim ini terdiri dari pawang dan gajah-gajah terlatih yang bertugas mengusir gajah liar dari perkebunan masyarakat kembali ke habitatnya. Dan Lisa merupakan salah satu di antara gajah-gajah jinak tersebut.

Sebelum menghabiskan siang dan malam bersama Lisa, Wandha belum pernah memiliki hubungan khusus dengan gajah secara umum.

“Saya memang suka banget sama binatang, tapi terkadang suka malas merawat binatang yang perlu perawatan intens. Menurut saya gajah perawatannya ngga ribet, apalagi untuk gajah yang hidup liar di habitatnya seperti Lisa. Hanya tinggal diberi vitamin atau suplemen. Itu yang awalnya buat saya percaya diri,” cerita Wandha.

Hari-hari yang dihabiskan Wandha bersama Lisa membuat perasaan sayangnya terhadap gajah membuncah.

Sampai di hari terakhir Wandha menjejakkan kaki di Taman Nasional Tesso Nilo, ia menyaksikan Lisa meneteskan air mata seakan sedih berpisah dengan Wandha.

Gajah memang mempunyai daya ingat yang kuat. Bahkan seekor gajah dapat dengan megingat seribu individu di dalam otaknya.

“Lisa aku pamit pulang ya,” kata Wandha kepada Lisa saat itu.

“Jangan lupain aku, nanti kalau aku ada waktu aku balik lagi ke sini. Hati-hati ya kamu, sebentar lagi kan lahiran. Jangan capek-capek,” lanjutnya mengenang.

Tak disangka beberapa bulan kemudian Wandha kembali mendapat panggilan dari WWF untuk merawat Lisa yang mau melahirkan.

Yang tadinya hanya dikontrak selama tiga bulan kerja, sekarang Wandha sudah dua setengah tahun bekerja di Riau bersama WWF.

Baru seminggu Wandha kembali mengabdi di Taman Nasional Tesso Nilo, Lisa mulai memberi pertanda akan segera melahirkan.

Satu malam sebelum Lisa melahirkan, Wandha mengaku uring-uringan. Ini merupakan kali pertama ia menangani kelahiran gajah.

Sampai akhirnya di pukul 3 pagi, teriakan gajah manis itu membangunkan Wandha. Ia dan kawan-kawan segera menjumpai Lisa yang berada di dalam kandang.

Kandang tersebut dibangun sebagai perlindungan bagi hewan yang sedang mangandung agar terhindar dari predator.

“Saya gak berani dekat-dekat karena takut Lisa kenapa-kenapa. Saya ngga tega melihatnya,” ujar Wandha.

Namun kelahiran anak Lisa berjalanan lancar. Setelah pulih, Lisa dan anaknya baru dilepaskan dari kandang.

Kisah-kisah yang tak akan pernah terlupakan inilah yang mendorong Wandha untuk terus mengabdi sebagai dokter hewan di pelosok Indonesia.

Walau semakin mahir mengurus gajah, tapi ia tetap menemui tantangan dalam mengembangkan kariernya.

“Saya satu-satunya wanita di tim ini. Dan keterbatasan dokter hewan di margasatwa juga kelihatan betul. Di seluruh Sumatera saja, hanya ada dua dokter hewan yang menangani margasatwa. Saya dari WWF dan satu lagi dari pemerintah,” ungkapnya.

“Untuk gajah jinak di linkungan saya saja sih jumlah ini masih memadai. Tapi kalau untuk satwa seluruh Indonesia, jumlah dokter hewan di Indonesia masih sangat kurang,” lanjutnya.

Selain keterbatasan dokter hewan, keterbatasan lahan hijau sebagai habitat margasatwa juga menjadi kekhawatiran.

Wandha mengungkapkan bahwa Indonesia sesungguhnya kaya akan ragam satwa, tapi habitat mereka kian berkurang berkat produksi kertas atau tisu yang menghancurkan hutan liar.

Situasi inilah yang juga mendorong Wandha untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hewan dan habitatnya.

“Melestarikan hewan dan habitatnya bisa dimulai dengan tidak membeli produk satwa liar atau mengurangi kegunaan tisu dan kertas,” tutur Wandha.

“Karena kelangsungan hidup mereka juga berarti bagi kelangsungan hidup kita. Contohnya gajah yang sering disebut satwa payung karena mereka bisa melindungi satwa lain dan habitatnya,” lanjutnya.

Wujud sosialisasi ini dilakukan ke sekolah-sekolah di wilayah Riau selagi Wandha mengabdi sebagai dokter hewan.

Source :

cnnindonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


4 × three =