Jejak Harimau di Riau Kembali Bikin Resah Warga

Photo: Liputan6.com / M.Syukur)

 

Masyarakat di Desa Koto Tuo, Kecamatan XIII Koto Kampar, Riau, dalam beberapa hari belakangan resah. Jejak-jejak harimau Sumatera tersebar di perkebunan karet milik warga dan membuat mereka tak berani beraktivitas.

Warga kian takut karena ada desas-desus yang menyebut ada sekitar enam harimau keluar dari hutan dan masuk ke perkebunan. Untuk memastikannya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengirim tim ke lokasi untuk mengecek kebenarannya.

“Sampai saat ini belum ada laporan, lokasinya cukup jauh, susah berkomunikasi,” kata Kabid Wilayah I BBKSDA Riau Mulyo Hutomo, Selasa, 10 Juli 2018.

Karena belum ada laporan dari lapangan, Hutomo belum bisa memastikan apakah jejak-jejak yang ditemukan warga itu jejak Harimau Sumatera. BBKSDA juga belum menentukan langkah selanjutnya, apakah memasang kamera intai atau perangkap, karena menunggu laporan pasti.

“Setelah ada laporan nanti dan aktivitas kemunculan meningkat, baru dipasang kamera intai,” katanya.

Terkait temuan jejak oleh warga itu, Hutomo menghimbau warga mengurangi aktivitas di kebun. Apalagi, lokasi temuan jejak itu berada di wilayah perbukitan dan sepi dari manusia karena hanya ada kebun serta beberapa pemukiman.

“Memang laporan temuan jejak itu berada di kebun dan rumah di atas bukit,” kata Hutomo.

Hutomo menjelaskan, Kampar termasuk sebagai wilayah habitat harimau karena di sana ada kawasan Bukit Bungkuk. Daerah ini termasuk cagar alam karena memang dihuni beberapa harimau.

Hanya saja, BBKSDA belum bisa memastikan beberapa individu harimau di sana. Dan untuk kejadian kemunculan ini disebut Hutomo sudah beberapa kali terjadi.

“Kalau aktivitas kemunculan jejak dan ada perjumpaan dengan harimau nantinya, baru dipasang kamera,” ucap Hutomo.

Beberapa bulan sebelumnya, harimau juga muncul di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Hanya saja harimau itu sudah tak terlihat lagi.

“Di Indragiri Hulu dan Pelalawan itu dipastikan harimau, hanya saja sekarang sudah tidak ada laporan lagi,” sebut Hutomo.

Sebelumnya, warga setempat, Imar dan Ikhsan menyebut jejak-jejak harimau pertama kali ditemukan pada Rabu, 4 Juli 2018. Jejak itu terlihat di jalan perkebunan menuju pemukiman penduduk.

“Jejak itu berjarak sekitar 50 meter dari rumah saya,” kata Imar kepada wartawan.

Menurut Imat, saat ini para petani di desa tersebut dibuat resah dan was-was dengan penemuan jejak. Akibatnya banyak warga yang tidak berani ke kebun karet terlalu pagi.

“Sekarang baru siang warga di sini pergi ke kebun,” katanya.

Masyarakat berharap agar pemerintah segera bertindak terhadap Harimau Sumatera itu sebelum ada petani atau warga yang menjadi korban. “Kita tidak tahu sampai kapan para petani akan bekerja dalam keadaan khawatir seperti ini,” ucapnya.

Source :

liputan6

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


fourteen + four =