Latihan Militer ke Riau

Foto : BatamRaya

 

Penangkapan berantai para terduga teroris jelang Natal dan tahun baru di Sumatera Selatan, Pekanbaru, dan Malaysia menemukan fakta baru. Mereka terafiliasi dengan ISIS. Khusus Sumsel sudah punya kamp sendiri. Malah berencana untuk menyerang Mapolres OKU di Baturaja.

Tim Densus 88 Anti-Teror (AT) Mabes Polri masih melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap 12 terduga teroris yang ditangkap Minggu (10/12) dari lima kabupaten di Sumsel. Hanya saja, benang merah penangkapan makin terkuak.

Kalau sebelumnya Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menegaskan bahwa penangkapan tidak terkait rencana serangan, kemarin, hasil pengembangan kasus mengungkap hal mengejutkan. Ternyata, terduga teroris kelompok Sumsel ini, benar-benar terafiliasi dengan jaringan ISIS.

Bahkan, mereka berencana melakukan penyerangan terhadap sejumlah kantor dan personel polisi di wilayah hukum Polda Sumsel. Untuk penyerangan, para terduga teroris sudah menyiapkan peralatan. Selain senjata api rakitan (senpira), ada panah, dan senjata tajam.

Di samping, merekrut sejumlah pemuda yang tergolong remaja. Seperti Jafar Saputra (15), warga Tangsi, Pasar II, Kabupaten Muara Enim yang juga ditangkap Densus 88 AT. “Mereka juga punya kamp latihan seperti di Poso,” ungkap Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, kepada wartawan, kemarin.

Menurut Kapolda, dari 12 terduga teroris, ada 7 hingga 8 orang yang bisa dijadikan tersangka. “Tapi, saat ini masih dalam pemeriksan. Nanti, yang berstatus tersangka akan dibawa ke Mako Brimob Polri, Depok. Kalau tidak terbukti, kita pulangkan.”
Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Bimo Anggoro Seno, terlihat merapat ke Makosat Brimob Polda Sumsel sekitar pukul 13.00 WIB, kemarin. Begitu tiba, Jenderal Bintang Satu itu, langsung menuju gedung Intel Brimob Polda Sumsel. Di ruang itulah, ke-12 terduga teroris diperiksa secara intensif oleh tim Densus di bawah komando AKBP Samsul Triasmoro.

Mendampingi Wakapolda, ada Kabid Humas AKBP Slamet Widodo, Wakil Direktur Intelkam AKBP Heri Widagdo, dan Kasubdit IV Direktorat Intelkam AKBP Marzuki Ismail. Namun, Wakapolda tidak memberikan keterangan apa-apa. Selama kurang lebih 1,5 jam berada di gedung intel, dia langsung kembali ke Mapolda Sumsel.

Kabid Humas AKBP Slamet Widodo mengatakan, mereka yang menjadi tersangka akan dijerat UU Terorisme. “Ada pengakuan dari 12 terduga teroris. Mereka bakal melakukan eksekusi penyerangan terhadap personel polisi dan beberapa kantor polisi. Bukan hanya di Sumsel, tapi juga luar Sumsel seperti Jambi. Jadi, penangkapan mereka adalah upaya antisipasi,” lanjutnya.

Dikatakan, para terduga teroris merencanakan penyerangan di pondok yang mereka dirikan jauh dari jangkauan masyarakat. Sangat terisolir. Setiap Jumat, biasanya mereka lakukan pertemuan di pondok yang mereka bangun itu. “Ke-12 terduga teroris ini tidak punya hubungan keluarga. Tapi, mereka terjalin dalam ikatan yang mereka sebut pengajian,” bebernya lagi.

Slamet tidak menyebut secara pasti di mana lokasi pengajian tersebut. Diduga, ada di sebuah tempat di Kabupaten Muara Enim. Setidaknya, dari 12 terduga teroris yang ditangkap, enam di antaranya ditangkap di daerah itu.

Mereka adalah Suwarto alias Abu Jakfar, warga Kelurahan Pasar 2, RT 4, RW 4, Kabupaten Muara Enim. Suwarto juga tinggal di Palembang, tepatnya di Jl Sukadamai, Lr Perdamaian No 107, RT 73, RW14, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami.

Lalu, Solihin (38), Slamet (23), dan Budiman (55) yang sama-sama warga Desa Lubai Persada, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim. Kemudian Abdul Majid (40), warga Desa Suban Jeriji, dan Jafar Saputra (15), warga Tangsi.

Dari Kabupaten OKU Induk ada 1, bernama Zulkarnaen (36), warga Desa Markisa Kec. Lubuk Batang. Sedangkan dari Kabupaten OKU Selatan, ada 2 orang. Yaitu Jakri (35) warga Desa Tanjung Durian, Buay Pemacak dan Irwan (43), warga Muara Dua.

Terkait peran ke-12 terduga teroris, Slamet tak merinci secara detail. Namun, lanjutnya, para terduga teroris adalah pengembangan dari kelompok Jamaah Anshorut Khilafah (JAK) dan Jamaah Anshorut Daulah (JAD).

Juga ada indikasi ikut memasok senpira kepada jaringan teroris Thamrin Jakarta 14 Januari 2016 dan bom bunuh diri Mapolres Surakarta 5 Juli 2016 lalu. Sekaligus pengembangan dari penangkapan teroris di OKU Selatan pada 2016 lalu.

Diketahui, teroris bernama Asep Nurjaman ditangkap 15 Agustus 2016 di jalan lintas Muaradua-Liwa, Kabupaten OKU Selatan, dan Bram Fitra. Kemudian 15 Maret 2017, ditangkap pula Edi Waluyo alias Tembel (39) dan Rahmat Candra alias Candra Indro (41), juga di OKU Selatan.

Terpisah, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan, untuk terduga teroris di Sumsel, mereka sebagian ada yang mengikuti pelatihan militer di Bukit Gema Lipat Kain, di Kampar, Riau. Pelaksanaan pelatihan Februari 2017 lalu. “Untuk terduga teroris yang bernama Solihin diduga mengetahui dan merencanakan penyerangan Mapolres Baturaja dan kantor Brimob di Depok.”

Menurut Setyo, dia juga menggerakan pendukung ISIS untuk membuat kamp khusus di Trans Barito Lubai, Muara Enim. “Semua masih kita dalami perannya.”

Selain 12 terduga teroris Sumsel, ada 4 terduga teroris dari Pekanbaru juga diamankan. Lalu, tiga lagi dari Surabaya. Mereka ini akan dibawa ke Mako Brimob. Khusus satu orang terduga teroris yang ditangkap di Malaysia akan dikirim ke Indonesia dalam waktu dekat.

Yang juga perlu diketahui, hingga saat ini sama sekali tidak ada rencana aksi teror yang diendus Polri. Namun, bukan berarti kewaspadaan diturunkan, Polri justru masih berupaya mengantisipasi. “Kami tidak ingin kecolongan,” pungkasnya.

Source :

sumeks

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


10 + fourteen =