Pengamanan Masjid Raya Sumbar Ditingkatkan Jelang Ramadhan

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menambah personel Polisi Pamong Praja (Pol PP) untuk pengamanan dan pengawasan Masjid Raya Sumbar menjelang Ramadhan agar pengunjung merasa lebih nyaman saat beribadah.

“Biasanya ada tiga personel Pol PP yang berjaga bergantian di sana. Ke depan kita tambah menjadi tujuh personel,” kata Kepala Dinas Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Pol PP-PK) Sumbar Zul Aliman di Padang, Rabu.

Ketujuh personel itu akan terus bertugas selama Ramadhan dan lebaran 2017, karena diperkirakan ribuan jamaah akan memadati masjid kebanggaan Sumbar pada waktu tersebut.

Selain menjaga bangunan masjid dari aktivitas tidak terpuji oknum masyarakat, Pol PP juga akan melakukan pengawasan terhadap Pedagang Kaki Lima (PKL) dan parkir liar di sekitar masjid.

Terkait aktivitas tidak terpuji oknum masyarakat, Zul Aliman mengatakan pihaknya pernah mengamankan muda-mudi di toilet masjid.

Ia menegaskan terkait tindakan amoral seperti itu Pol PP tidak akan memberikan toleransi dan akan melanjutkan kasus yang dikategorikan tindak pidana ringan itu hingga pengadilan.

“Kita tegas untuk hal seperti ini,” katanya.

Meski sudah ada pengamanan, ia berharap semua pihak yang mengunjungi Masjid Raya Sumbar ikut menjaga keamanan lingkungan masjid.

Apalagi menurutnya Masjid Raya Sumbar adalah salah satu ikon wisata religi yang dibanggakan daerah, harus dijaga secara bersama-sama.

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan masjid terbesar di provinsi itu yang pembangunannya dimulai pada 21 Desember 2007. Pembangunan dikerjakan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dari provinsi.

Total anggaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan masjid itu hingga selesai mencapai Rp256 miliar.

Jumlah yang sangat besar itu disebabkan struktur bangunan yang dibuat tahan terhadap gempa.

Masjid yang dipenuhi ukiran khas Minangkabau yang mempesona itu terdiri atas tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai dua, terhubung dengan teras terbuka yang melandai ke jalan.

Bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 40.343 meter persegi itu berbentuk persegi yang melancip di keempat penjurunya, melambangkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad dengan memegang masing-masing sudut kain.

Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau Rumah Gadang.

Source :

antaranews, Miko Elfisha

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


17 − fifteen =