Tafsiran : Mengapa Peran Perempuan dan Anak-anak Meningkat dalam Aksi Terorisme

ANTARA FOTO/Moch Asim/kye/18

 

SINGAPURA: Di Asia Tenggara, keluarga termasuk wanita dan anak-anak berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam (IS) setelah deklarasi kekhalifahannya pada 2014.

IS menyebut “anak-anak dari kekhalifahan” dan memandang wanita sebagai garda depan generasi penerus pejuang. Video indoktrinasi ideologis dan pelatihan militer anak-anak di Asia Tenggara muncul selama 2015 dan 2016.

Perempuan dan anak-anak sebagai aktor terorisme bukanlah hal baru. Pembebasan Macan Tamil Eelam, Boko Haram, dan bahkan Lord’s Resistance Army “menggunakan” wanita dan anak-anak untuk melakukan serangan dan bom bunuh diri.

Setidaknya dua anak Indonesia yang berjuang bersama IS tewas di Suriah.

Namun, selama seminggu terakhir, peran anak-anak dan keluarga sebagai unit dalam aksi bom bunuh diri di Surabaya telah menghidupkan kembali perdebatan tentang moralitas dan evolusi kelompok-kelompok teroris di wilayah tersebut.

Publikasi baru-baru ini oleh think tank kontra-ekstremisme Quilliam berjudul Tackling Terror: Tanggapan terhadap Teologi Teroris Takfiri mengeksplorasi gagasan tentang target yang sah dan kerusakan kolateral.

Laporan tersebut mencatat bahwa “wanita cenderung diklasifikasikan dalam kategori ‘wanita dan anak-anak,’ dan sebenarnya mereka ‘rentan’.”

Namun, serentetan serangan baru-baru ini menegaskan kembali kebutuhan untuk menilai kembali apakah memang benar demikian.

Telah menjadi perdebatan panjang tentang seberapa banyak perempuan dan anak-anak terlibat dalam serangan teroris, seperti serentetan pengeboman di Surabaya, bahwa apakah mereka bertindak secara independen dan memiliki kekuatan untuk memilih versus seberapa dalam ideologi radikal yang disalahtafsirkan yang diterapkan dalam keluarga ataukah peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan aktor kunci dalam aksi terorisme, membutuhkan pengamatan lebih mendalam.

Pengamatan atas beberapa faktor di atas bisa dipersempit sehingga yang tersisa adalah bahwa perempuan dan anak-anak rentan dan tidak punya pilihan.

MEMPERSENJATAI ANGGOTA KELUARGA

Keterlibatan anggota keluarga dewasa dalam serangan teroris atau operasi bunuh diri bukanlah hal baru. Kelompok teroris seperti Jemaah Islamiyah (JI) telah lama menggunakan jaringan keluarga dan perkawinan untuk merekrut, meradikalisasi, dan memperkuat jaringan mereka untuk melakukan operasi di wilayah tersebut.

Dalam konteks ini, memanfaatkan anak-anak dan anggota keluarga untuk melakukan aksi dipandang sebagai strategi mutakhir dalam upaya meningkatkan efektivitas operasi teroris.

Anak-anak telah menjadi bagian integral dari strategi Jemaah Ansharut Daulah (JAD) dan kelompok lain di Indonesia yang “berafiliasi” dengan IS. JAD telah menyatakan diri berbagai elemen pro-IS di Indonesia.

Strategi ini terlihat dalam indoktrinasi yang stabil dan terukur terhadap wanita dan anak-anak selama bertahun-tahun yang pada gilirannya mengarah pada manifestasi terbaru – anggota keluarga sebagai senjata terorisme.

Kondisi ini membuat pihak berwenang kesulitan untuk mendeteksi struktur jaringan karena didukung oleh ikatan keluarga yang secara tidak sengaja menyamarkan pembelotan dalam jajaran.

SEKOLAH BERASRAMA

JAD telah melembagakan indoktrinasi anak-anak melalui sederetan pesantren (sekolah berasrama), memanfaatkan keraguan para anggotanya dalam mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar di sekolah negeri dan sekolah Islam arus utama.

Pertimbangkan keyakinan JAD tentang takfir –konsep seorang Muslim menuduh Muslim lain dari kemurtadan dan menyatakan dia sebagai orang yang tidak punya iman – dan pandangannya bahwa pemerintah adalah thaghut (penindas) yang perlu diperangi.

Penelitian kami menunjukkan bahwa JAD telah mendirikan sekolah berasrama di seluruh negeri yang memastikan anak-anak mematuhi standar yang ditetapkan, memanfaatkan donasi dari komunitas pro-IS Indonesia untuk membiayai sekolah yang sedang berjalan.

Mereka diketahui mendirikan sejumlah sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Sumatra (Sumatra Selatan dan Lampung), Jawa Barat, Poso di Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Anak-anak anggota JAD yang dipenjara yang belajar di sana dibebaskan dari keharusan membayar uang sekolah alias digratiskan.

Sekolah-sekolah ini biasanya tidak terdaftar di Kementerian Agama, menjadikan pengawasan sebagai tantangan utama bagi pihak berwenang Indonesia.

Empat pesantren tersebut terhubung dengan JAD. Terlepas dari tujuan pendidikan dan indoktrinasi mereka, pesantren juga menjadi tempat pertemuan para ekstremis yang berpikiran sama dengan JAD.

Salah satu pendiri Pesantren Ibnu Mas’ud di Bogor, Jawa Barat, adalah Abu Musa alias Hari Budiman, mantan pemimpin JAD. Dia saat ini diyakini berada di Suriah.

Dilaporkan bahwa setidaknya 18 orang yang terkait dengan pesantren Ibnu Mas’ud ditangkap karena diduga terlibat dalam perencanaan serangan di Indonesia. Sebanyak 12 lainnya – termasuk delapan guru dan empat siswa – dilaporkan berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan IS.

Administrator JAD wilayah Jawa Barat, Fauzan al-Anshori, mengelola Pesantren Anshorullah yang berbasis di Ciamis, Jawa Barat. Pesantren tersebut menjadi rumah bagi para anggota JAD yang telah menyatakan diri setia kepada pemimpin IS, Abu Bakr Al-Baghdadi, dan berfungsi sebagai titik pertemuan sel-sel JAD di Jawa Barat.

Beberapa kegiatan di pesantren ini juga berfungsi sebagai pelatihan bagi para ekstremis muda. Anak-anak di pesantren JAD di Muara Enim, Sumatera Selatan misalnya, mengikuti ekstrakurikuler mencakup kegiatan panahan dan penggunaan senapan angin.

INDOKTRINASI MELALUI HOME-SCOOLING

Radikalisasi juga bisa terjadi di luar pesantren-pesantren ini. Pasangan suami-istri yang terlibat dalam pengeboman di Kantor Polisi Kabupaten Surabaya itu tidak menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum.

Klaim bahwa anak-anaknya mengikuti home-schooling, mereka mewajibkan anak-anaknya secara rutin menonton video tentang aksi teroris. Penelitian menemukan e-pamflet berisi ideologi IS dalam bahasa Indonesia yang tersedia secaraonline yang bisa menjadi pelajaran tambahan untuk anak-anak.

Di area Jabodetabek, ada sesi belajar khusus yang diadakan untuk para perempuan, yang merupakan istri anggota JAD, dan anak-anaknya. Sesi belajar ini melengkapi praktik yang lebih marak dari komunitas studi online di kalangan perempuan pendukung IS.

DIPILIH TANPA PILIHAN

Penyerangan oleh anggota keluarga telah menimbulkan pertanyaan tentang moralitas dalam penggunaan anak-anak dalam aksi ekstremisme dan terorisme, tetapi hal itu tidak menghentikan kelompok-kelompok seperti JAD untuk terus melakukan teror.

IS menyebut “anak-anak dari kekhalifahan” tetapi di luar konteks, adalah realitas yang kejam yang menodai kesucian martabat manusia seperti dituliskan dalam Al-Qur’an, bahwa kaum Muslimin harus menghormati anak-anak mereka.

Muaranya adalah lingkaran setan radikalisasi yang memperkuat tangan kelompok-kelompok ekstremis.

Ada argumen yang harus dibuat bahwa struktur keluarga yang melahirkan anak-anak ini telah menciptakan ruang gema yang tidak hanya memengaruhi kemampuan mereka untuk melatih jaringan.

Mereka juga telah menyebabkan perempuan dalam keluarga-keluarga ini menerima peran agresif dalam serangan teroris– tidak hanya untuk suami dan diri sendiri, tetapi juga untuk anak-anak mereka.

Meskipun keterlibatan anggota keluarga bukanlah strategi baru jika kita melihat kelompok teroris lainnya, dengan semua perkembangan yang ada menjadi bukti bahwa kelompok ekstremis Indonesia telah menaikkan posisi tawarnya.

Mengingat kerugian teritorial yang dialami di Irak dan Suriah dan ketidakmampuan untuk mendapatkan pijakan di Marawi, IS akan terus berupaya untuk mereposisi dirinya secara bertahap. Manuver-manuver ini mencoba untuk memproyeksikan kecanggihan melalui upaya mereka untuk beradaptasi dengan lanskap ancaman terorisme yang terus berkembang.

Dr Jolene Jerard adalah wakil kepala dan periset di Pusat Penelitian tentang Kekerasan Politik dan Terorisme di S Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. V. Arianti adalah koleganya di universitas yang sama.

Source :

CNA/sl

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


one × four =