Atasi Konflik dengan Manusia, Yayasan TNTN Patroli dengan 3 Ekor Gajah Jinak

Source: Internet

 

Populasi gajah Sumatera di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) hingga saat ini diperkirakan 100 sampai 110 ekor.

Dalam kehidupannya di dalam hutan dalam mencari makan, gajah memiliki jalur migrasi, dan kawasan TNTN satu di antara jalur gajah. Namun, kini hutan TNTN yang dulunya tempat hidup gajah mencapai 83 ribu hektar lebih, kini hanya tinggal 20 ribu hektar lebih, selebihnya sudah berubah menjadi kebun sawit.

Malahan, di dalam kawasan TNTN kini sudah hidup masyarakat sebanyak 2.000 kepala keluarga lebih atau diperkirakan 6.000 jiwa.

Sekitar kawasan TNTN, juga sudah dikelilingi kebun sawot warga, dan juga areal konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Atas kondisi itu, tempat hidup gajah semakin sempit, sehingga terkadang dalam mencari maka. berjumpa dengan manusia. Situasi ini kadang memakan korban nyawa, baik dari gajah mauoun manusia.

Yayasan TNTN sebagai Non Goverment Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bekerjasama dengan NGO lainnya dan Balai TNTN berusaha meminimalisir konflik gajah dengan manusia tersebut. NGO yang bekerjasama dengan Yayasan TNTN di antaranya TFCA dan Pundi Sumatera.

Satu di antaranya dengan memanfaatkan gajah jinak.

Saat ini, Balai TNTN mempercayakan tiga ekor gajah kepada Yayasan TNTN untuk dikelola guna melakukan patroli dan mengantisipaai konflik gajah dengan manusia di sekitar kawasan TNTN.

Tiga ekor gajah yang dikelola Yayasan TNTN itu yakni, Novi berumur 35 tahun, Jambo berumur 10 tahun, dan Dono berumur 40 tahun.

Direktur Yayasan TNTN, Yuliantony kepada Tribunpekanbaru.com pada Selasa (2/1/2018) menyebutkan, tiga ekor gajah ini dipelihara dan dijinakkan serta dipandu oleh tujuh orang mahot.

“Tiga gajah itu kini ditempatkan di Flaying Squad Gondai Jalan Koridor PT RAPP. Tujuh orang mahot ini bergabung dengan tim patroli, dan juga ada tim riset guna mengidentifikasi pakan gajah, dan jumlah populasi gajah,” ungkap Tony.

Menurut Tony, selain melakukan patroli, warga masyarakat juga bisa melihat gajah ini di Flying Squad Gondai. Juga bisa untuk sarana belajar untuk anak sekolah atau anak kuliahan.

“Flying Squad Gondai berada di Jalan Koridor PT RAPP Gondai. Dari Pekanbaru sekitar 90 menit sampai 120 menit. Dari Pekanbaru melalui Jalan Lintas Timur, masuk ke simpang Langgam, tembus ke Jalan Koridor PT RAPP, nanti akan ada sebelah kanan Flying Squad Gondai,” tutut Tony.

Fasilitator Wilayah Sumatera Pundi Sumatera, Damsir kepada Tribunpekambaru.com menyebutkan, Pundi Sumatera dan NGO lainnya utamanya saat ini melakukan kegiatan pembinaan masyarakat dalam menyelamatkan hutan yang tersisa dan bekerjasama dengan masyarakat.

“Kami bekerjasama dengan masyarakat, satu di antaranya dengan masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB). Kegiatan di antaranya mengembangkan ekowisata dan mengajak masyarakat mengembangkan hutan supaya bisa bermanfaat.

“Saat ini sudah ada ekowisata dan madu lebah. Untuk wisata sedang disusun. Secara umum masyarakat berkolaborasi dengan NGO sangat baik. Ke depan harapannya peran Yayasan TNTN dan mitra lain untuk pembinaan gajah,” ungkap Damsir.

Soal gajah, kata Damsir, yang bisa dilakukan adalah menghindari konflik, lakukan patroli dengan gajah jinak, dan menghalau gajah liar yang menyentuh wilayah pemukiman.

“Saat ini dinkawasan TNTN ada tiga kelompok besar gajah, satu kelompok ada sekitar 20-30 ekor. Suatu waktu kelompok ini reuni hingga 50 ekor. Jumlah gajah saat ini 100 sampai 110 ekor, dan pergerakan gajah ini selalu dipantau,” jelas Damsir.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


5 × five =