BRG siapkan sekolah ajarkan pembukaan lahan tanpa bakar

Foto: AgroIndonesia

 

Badan Restorasi Gambut (BRG) menyiapkan sekolah lapang yang salah satu tujuannya mengajarkan masyarakat yang berdiam di lahan gambut melakukan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) sebagai bentuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG Myrna kepada Antara di Jakarta, Sabtu, mengatakan masyarakat bisa melihat dan belajar PLTB yang sudah sukses dijalankan sejauh ini melalui sekolah lapang.

“Masyarakat di beberapa desa dilatih PLTB. Kita juga mau membuat sekolah lapang. Masyarakat bisa lihat hasil PLTB di demplot-demplot yang dibuat untuk sekolah lapang,” katanya.

Ia mengatakan sekolah lapang rencananya baru akan berjalan April 2018, dan saat ini persiapan masih dilakukan sambil menentukan lokasi-lokasi yang tepat di enam provinsi yang akan dibuka secara serentak.

Khusus sosialisasi terkiat PLTB kepada masyarakat sendiri juga dilakukan oleh setiap fasilitas Desa Peduli Gambut (DPG) yang dibentuk BRG. Beberapa DPG yang memang sudah memiliki demplot juga sudah ada yang menggelar pelatihan PLTB tersebut.

Sebangau Jaya, Kalimantan Tengah, sudah mengembangkan PLTB yang awalnya hanya seluas satu hektare (ha) dan berhasil melakukan panen sampai 4,5 ton per ha. Saat ini kegiatan pertanian sawah tanpa bakar di lahan gambut budidaya ini dibantu diteruskan oleh Wetland International.

Sedangkan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat bentuknya memang masih demplot.

Kepala Desa Sebangau Jaya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kisruh Sekar Tran Lestari mengatakan cara membuka lahan gambut dengan membakar memang lebih praktis dan murah, tapi dirinya sadar betapa berbahayanya menggunakan cara itu karena bisa berujung karhutla besar seperti yang terjadi di 2015.

Awalnya pengembangan PLTB di desanya dilakukan secara swadaya dan kini diperluas hingga tujuh ha dengan bantuan BRG. Dirinya memulai sistem pertanian ini setelah di 2017 melihat praktik PLTB yang dilakukan di Desa Pantik, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Warganya, menurut dia, sudah tidak berani membakar untuk memulai tanam sehingga banyak ladang yang ditinggalkan. Pada saat yang sama sumber pangan mereka mulai berkurang, karenanya mereka belajar melakukan PLTB.

Source :

Antara News

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


four × 1 =