Karyawan Perkebunan Sawit PT THIP Indragiri Hilir Dihantui Ketakutan karena Khawatir Sewaktu-waktu Diserang Harimau Bonita

Foto: hartanto tri

 

Produktivitas kerja karyawan PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP), menurun akibat konflik harimau sumatera bernama bonita.

Sejak kejadian dua orang warga diterkam harimau sumatera yang diberi nama Bonita ini, para pekerja cukup khawatir saat melakukan aktivitas di perkebunan kelapa sawit yang berada di Desa Tanjungsimpang Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.

Manager Estate Eboni PT THIP Mesdi mengatakan bahwa karyawan mengalami sedikit trauma. “Dampaknya ke produktivitas kerja karyawan,” ujar Mesdi, Sabtu (24/3/2018), dilansir potretnews.com dari kompas.com.

Biasanya, para karyawan bekerja hingga sore pukul 17.00 WIB. Namun sejak harimau Bonita masuk ke perkebunan, karyawan pulang lebih awal. Untuk melakukan panen, para pekerja dianjurkan lebih dari satu orang di kebun. Karena pada beberapa blok menjadi pelintasan raja hutan tersebut.

“Kami juga memberikan pembinaan kepada karyawan untuk lebih waspada saat bekerja di perkebunan,” kata Mesdi.

Meski demikian, saat ini karyawan bekerja seperti biasa. Namun tetap diawasi oleh pihak perusahaan yang bergerak bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, polisi dan TNI serta WWF.

“Dengan adanya pengawasan, pekerja pun merasa aman. Namun kita ingatkan juga tetap berhati-hati,” terang Mesdi. Dia berharap, masalah konflik harimau sumatera ini cepat selesai, agar karyawan perusahaan tidak lagi terganggu saat bekerja. “Dan kita juga berharap Bonita dapat dipindahkan ke habitatnya,” ujar Mesdi.

Sebagaimana diketahui, Bonita menerkam Jumiati, yang merupakan karyawan PT THIP pada 3 Januari 2018 lalu. Sejak kejadian itu, para karyawan sudah mulai resah dengan keberadaan binatang buas, yang sering melintas di perkebunan kelapa sawit. Lebih kurang satu bulan setelah itu, Bonita kembali menerkam Yusri yang sedang mengerjakan bangunan sarang burung walet di Dusun Sinar Danau Desa Tanjungsimpang Kecamatan Pelangiran, Inhil.

Dari dua kejadian ini, warga di areal konflik resah dan takut untuk beraktivitas di luar rumah. Hingga saat ini, pihak BBKSDA Riau, petugas kepolisian, TNI dan WWF terus berupaya menyelamatkan Bonita agar segara dilakukan dipindahkan untuk dilakukan observasi dan setelah itu dilepaskan kembali ke habitatnya.

Source :

Potret News

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


six − two =