Ketika Hutan ’’Disulap” Menjadi Perkampungan

Source: Internet

 

Hutan seharusnya menjadi tempat berlindung puluhan bahkan ratusan jenis satwa. Namun, kini berganti menjadi rumah bagi ribuan manusia. Ketika hutan disulap menjadi kebun yang semestinya tempat tumbuh tingginya pohon-pohon langka, sekarang sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan tanaman kelapa sawit.

Begitulah gambaran Dusun Toro Jaya, yang masuk wilayah administrasi Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Dusun ini disebut-sebut berada dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Jika mengacu kepada aturan, tak boleh ada perkampungan di sana. Warga harus meninggalkan TNTN.

Namun ini menjadi dilema. Kehidupan warga yang jumlahnya mencapai 8.000 jiwa sudah terlanjur berkembang pesat di sana. Sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan struktur pemerintahan terendah tersusun de­ngan apiknya. Meski pembangunan fisik tak bisa disentuh uang negara, tapi fasilitas di kampung ini bisa tercipta dengan swadaya.

Warga kompak membangun dusun mereka dengan sekuat tenaga, walaupun hasilnya tak secantik yang dibuat pemerintah.

Selasa (23/1) lalu, Riau Pos memasuki Dusun Toro Jaya. Jika dari Pekanbaru, akan memakan waktu lima jam. Masuk dari Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sahilan, Kampar. Dari desa ini, tidak lagi melewati jalan aspal. Hanya jalan tanah pengerasan yang berada di dalam kawasan konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Cukup lama perjalanan yang ditempuh di kawasan RAPP ini. Menggunakan kendaraan roda empat, memakan waktu sekitar dua jam. Ada tiga pos pengamanan yang dijumpai. Setiap pos, petugas yang berjaga selalu mencatat identitas pengemudi dan nomor polisi kendaraan. Pada pos ketiga yang menjadi pos terakhir, petugas jaga menanyakan tujuan kedatangan.

“Mau ke mana Pak?,” tanya petugas yang mengenakan seragam dongker itu.

Menjawab pertanyaan itu, Riau Pos mengaku akan ke Dusun Toro Jaya. “Oh, mau ngambil lahan ya Pak?” sahut petugas itu menerka maksud ke Dusun Toro Jaya.

Pernyataan petugas itu seolah dia tahu, bahwa di Toro Jaya adalah lahan perkebunan. Wajar saja jika ada orang asing yang datang, dia langsung menerka, yang tak lain tujuannya untuk membeli lahan kebun atau sekadar menengoknya. Tak menjadi rahasia lagi, di kawasan TNTN bukanlah hutan seperti yang dipikirkan.

Tak sempat menanggapi terkaan itu, petugas pos jaga tersebut langsung menimpalinya dengan menunjukkan arah jalan ke Dusun Toro Jaya.

“Nanti jumpa simpang, itu namanya Simpang Kampar. Belok kiri, terus saja jalan. Di sana, coba tanya lagi ke warga,” katanya seraya mempersilakan untuk melanjutkan perjalanan.

Sekitar 4 km dari pos penjagaan terakhir itu, ternyata Riau Pos sudah meninggalkan kawasan RAPP. Pohon-pohon yang menjadi bahan baku kertas itu tak dijumpai lagi. Sisi kiri dan kanan jalan, mulai ditemui kebun sawit dan karet. Tapi itu tak berlangsung lama, selang beberapa kilometer, kembali masuk ke dalam koridor di mana pohon-pohon eucalyptus berjajar di kiri dan kanan jalan.

Ada sekitar 30 km lagi yang harus ditempuh hingga sampai ke gerbang Dusun Toro Jaya. Jalan yang ditempuh pun tidak mudah. Jika tidak banyak bertanya kepada orang-orang yang melintas atau kebetulan ada pekerja yang ada di sekitar kawasan konsesi, pasti akan kesasar. Karena ada simpang ke kiri dengan lebar jalan sekitar 12 meter yang harus dilalui. Dari simpang itu hingga ke gerbang Dusun Toro Jaya sekitar 8-10 km dengan jalan yang berlubang dan licin.

Memasuki Dusun Toro Jaya, berdiri sebuah pos penjagaan. Ini adalah gerbang masuk dusun itu. Di dalam bangunan dinding papan yang berukuran 2×3 meter itu, terlihat dua orang pemuda berbadan kekar yang sedang berjaga. Namun, portal di pos terbuka saja. Riau Pos bisa masuk dengan bebas. Kendaraan tak dihentikan. Klakson dibunyikan tepat di depan pos jaga. Dari balik jendela, dua pemuda itu mengamati siapa yang ada di dalam mobil. Namun, mereka hanya melemparkan senyuman dan sedikit menganggukkan kepala. Ini menjadi isyarat, mereka mempersilakan untuk masuk. Kendaraan pun berjalan dengan perlahan.

Dari pintu masuk itu saja sudah ramai terlihat warga. Di kiri dan kanan jalan, berdiri rumah-rumah penduduk. Ada rumah semi permanen dan ada juga yang permanen. Namun umumnya, rumah dibangun semi permanen. Lantai semen, dinding papan, dan atap seng. Desainnya sederhana.

Sekitar 1 km dari pintu masuk dusun, rumah-rumah penduduk semakin banyak ditemui. Bangunan rapat-rapat berdiri. Jarak antara rumah hanya sekitar lima meter. Kalau diperkirakan, di titik itu saja ada sekitar 150 rumah.

Aktivitas warga juga sibuk di sini. Kendaraan yang kebanyakan roda dua mondar-mandir di jalan yang masih tanah itu. Semacam pasar. Ada yang berdagang keperluan harian, ada toko pupuk, bengkel, tempat cucian kendaraan, toko seluler, dan ada pula yang sekadar berdagang kaki lima. Mereka menggelar sebuah meja, menjual bermacam jenis sayur dan buah-buahan.

Untuk fasilitas transportasi, warga tak hanya mengandalkan kendaraan pribadi. Di dusun itu, sudah ada sebuah terminal bus. Terminal berada sekitar 100 meter sebelum simpang empat yang seperti pasar itu. Setiap hari, ada bus PMH ukuran besar yang keluar masuk. Bus ini sengaja menjemput dan mengantar warga trayek Toro Jaya-Medan. Setidaknya, seperempat bus sudah diisi dengan penumpang dari Toro Jaya.

Begitu juga dengan tempat ibadah. Setidaknya, ada tiga musala yang bediri di dusun itu. Sedangkan gereja, ada empat. Fasilitas pendidikan juga ada. Mulai dari PAUD, SD, hingga SMP. Meski sekolah-sekolah yang berdiri ini hanyalah kelas jauh dan bangunannya semi permanen, namun jumlah siswanya tak kalah banyak dengan sekolah di luar sana. Terhitung ada ratusan jumlah siswanya.

Kalau ada warga yang sakit, di sini juga sudah berdiri pusat kesehatan desa (puskesdes). Bangunannya juga masih semi permanen. Fasilitasnya terbatas, dokter tak ada. Hanya ada bidan kampung, yang juga warga Dusun Toro Jaya.

Saat melihat-lihat kondisi dusun itu, tak sedikit warga yang berpapasan. Mereka sadar bahwa ada orang asing masuk ke kampung. Namun, itu tak menjadi persoalan bagi mereka. Warga tak menutup kedatangan orang luar. Buktinya, mereka ramah. Tegur sapa selalu tercipta. Meski tak saling kenal, senyum atau sekadar anggukan kepala, selalu diterima Riau Pos dari warga. Ini sekaligus membantah kabar yang beredar di luar, bahwa warga Toro Jaya tak bersahabat dengan orang asing yang masuk.

Di dusun itu, Riau Pos berjumpa dengan seorang warga. Saat mempernalkan diri, pria 40-an tahun itu mengaku namanya Sinaga. Tak lama perkenalan itu berlangsung, rasanya sudah begitu akrab. Senda gurau, canda tawa, mengalir begitu saja.

Ternyata, lelaki berbadan sedang ini adalah Ketua RT 05, RW 01, Dusun Toro Jaya. Tempat keramaian saat berjumpa dengan Naga, bukanlah wilayah administrasinya. RT 05 berjarak sekitar 5 km dari lokasi itu. Kalau berkendara, akan memakan waktu 50 menit lagi. Memang lama perjalanan ditempuh. Ini tak terlepas dari kondisi jalan tanah yang berlubang-lubang dan licin. Tak bisa membuat kendaraan melaju dengan cepat. “Ayo kita keliling Toro,” ajak Naga.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Itu benar yang diinginkan. Tawaran Naga langsung diiyakan. Sepanjang perjalanan, Naga bercerita panjang tentang pengalaman pribadinya. Mulai sejak dia bersekolah, hingga tumbuh dewasa. Hingga akhirnya pembicaraan Naga sampai pada sejarah dia bisa berada di Dusun Toro.

“Saya di sini sudah sekitar dua tahun,” katanya.

Dia tak pernah berpikir sebelumnya, kalau dia akan menetap di Toro. Naga seolah tersesat. Awalnya dia tidak tahu, bahwa tanah yang dia tempati adalah kawasan larangan.

“Dulu diajak sama keluarga ke sini untuk buka kebun,” kata dia. Ajakan itu di­terimanya. Dia bersama anak istrinya pindah ke Toro Jaya.

“Saya jual tanah dan rumah di kampung. Pindah ke sini, dan buka lahan,” kata dia.

Naga pun enggan menyebutkan berapa lahan kebun sawit yang dikuasainya. Dia juga tak mau bercerita dari siapa tanah itu dibelinya. Yang jelas, dia dulunya mengira itu adalah lahan yang boleh dijadikan kebun.

“Rata-rata warga di sini juga begitu. Dijual hartanya di kampung, lalu pindah ke sini mencari kehidupan baru. Ya, niatnya untuk mengubah nasib,” ujar Naga.

Tiba-tiba, Naga meminta untuk menepikan kendaraan. Dia mengajak Riau Pos keluar dari mobil. Terlihat Naga menuju sebuah bukit. Riau Pos pun mengikutinya.

“Ini namanya Bukit Mungkar Nangkir,” kata Naga, saat berada di puncak bukit itu.

Bukit itu tepat berada pada titik koordinat 0°14’49.6”S 101°49’15.5”E. Bukit tersebut masuk ke wilayah administrasi RT yang dipimpin Naga.Di puncak ini, angin berembus begitu kencang. Barangkali, inilah dataran yang paling tinggi di kawasan Toro Jaya. Betapa tidak, semuanya tampak dari sini. Sekeliling Toro Jaya terlihat. Sejauh mata memandang, hanya kebun sawit yang terlihat. Tak tampak satu batang pohon pun yang biasa tumbuh di dalam hutan ada di wilayah itu.

“Mana hutan di sini? Nggak ada kan. Semuanya adalah kebun sawit,” kata dia.

Di Bukit Mungkar Nangkir ini juga, kata Naga, tempat terjalinnya komunikasi dengan dunia luar. Sebab, di sini menjadi salah satu tempat untuk bisa mendapatkan sinyal atau jaringan seluler. “Kalau mau menelepon, atau main Facebook di sini bisa,” ujarnya.

Naga juga memperkenalkan Riau Pos kepada warga Toro Jaya lainnya. Teguh salah satunya. Nasib Teguh sama dengan Sinaga. lelaki 40 tahun ini sudah menjual harta bendanya di Medan, Sumatera Utara.

“Sampai kuali dan periuk kami jual untuk pindah ke sini,” katanya.

Baru satu tahun Teguh berdomisili di Dusun Toro Jaya. Saat ini, dia sedang mengelola kebun sawit yang dikuasainya. Luasnya tak sampai lima hektare. Meski dia sudah menetap di sana, tapi dia masih tercatat sebagai penduduk Medan.

“Saya masih kartu tanda penduduk (KTP) Medan,” ujarnya.

Lalu mengapa bisa Teguh sampai ke Toro Jaya? Sekitar setahun yang lalu, ekonominya memburuk. Penghasilannya tak cukup untuk menghidupi keluarga. Saat itu pula ada keluarganya yang merasa iba.

“Awalnya keluarga yang mengajak ke sini. Dia bilang, lihatlah kondisi di situ,” sebutnya.

Teguh pun menurutinya. Saat itu dia belum tahu bahwa kawasan tersebut masuk ke dalam TNTN. “Ya, nggak tahu saya. Saya pindah saja ke sini,” imbuh Teguh.

Tapi kini, dia sudah tahu bahwa lahan tempatnya berkebun adalah kawasan TNTN. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. “Mau pindah ke mana? Rumah di kampung sudah dijual. Tak ada lagi harta yang tersisa di sana,” kata Teguh.

Dia juga tak tahu pasti siapa orang pertama yang berada di Dusun Toro Jaya. Tapi setahu dia, Dusun Toro Jaya adalah pengembangan lahan perkebunan warga Dusun Kuala Renangan.

“Di sana dusun tuanya. Toro inilah lahan tempat pengemba­ngan perkebunan dulunya, sampai sekarang ini,” ujar dia.

Serupa pula dengan nasib Mendrofa (50), warga Dusun Toro Jaya lainnya. Dia sudah tahu kalau lahan tempat dia berkebun adalah TNTN. Namun kini dirinya tak bisa berbuat banyak. Hanya satu permintaannya, biarkanlah dia hidup tenang dengan sebidang kebun yang sedang digarapnya.

“Kami selalu dibayang-bayangi rasa takut. Seakan-akan kami akan diusir. Kalau kami diusir, ke mana kami akan pergi? Kami seperti belum merdeka,” katanya.

Setahun yang lalu, pernah dia bersama delapan keluarga lainnya diusir dari rumah. Saat itu rumahnya berdiri tepat di pinggir TNTN yang belum tersentuh. Pengusiran itu membuat dia dan anak istrinya trauma. Betapa tidak, petugas yang mengusirnya itu berlagak dengan kasar. Tak ada tawar-menawar.

“Kami diseret ke luar rumah. Rumah kami dibakar. Semua peralatan habis. Hangus. Tak ada lagi yang tersisa,” ujarnya mengenang.

Dia tak tahu pasti dari lembaga apa yang mengusir dan membakar rumah mereka. Setelah pembakaran itu, dia bersama keluarganya menumpang di rumah warga lainnya.

Di dusun itu, Riau Pos juga berjumpa dengan Kepala Dusun Toro Jaya, Suryadi. “Bagaimana? Sudah lihat-lihat di dusun ini? Tak ada hutan kan?” katanya saat dihampiri.

Dia tahu betul, bahwa kebun yang dikuasai warganya, serta tempat mereka tinggal adalah TNTN. Tapi apa boleh buat, itu semua sudah telanjur.  “Kami di sini korban,” ujar Suryadi.

Korban ketidaktahuan atas status lahan yang dulu dia beli.

“Apalagi mau dikata. Kalau mau balik kampung, tidak mungkin. Tanah, rumah, harta, semuanya sudah dijual,” ujarnya.

Namun, dari pengakuan salah seorang warga Toro Jaya yang tak mau disebutkan namanya, dia membeli lahan perkebunan sawit dari salah seorang warga setempat yang mengaku sebagai tokoh adat. Dia tertarik untuk membeli lahan itu, karena harganya relatif murah dibanding dengan harga lahan kebanyakan.

“Karena murah itu kami rela menjual harta benda kami di kampung. Banyak yang tertarik. Makanya pada pindah ke sini. Setelah dibeli, baru kami tahu kalau ini masuk dalam TNTN,” ujar pria berkulit gelap itu.

Lahan ini, kata dia, tidak semuanya milik warga. Ada juga orang-orang tertentu, seperti pengusaha dan cukong. Namun, mereka bersembunyi di balik masyarakat.

Source :

Riau Pos

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


4 × 5 =