Membuang Asam, Menjaga Payau

Source: Internet

 

Selama ini, masyarakat Riau umumnya dan Siak khususnya mengenal kampung ini dengan keindahan alam dan hutan mangrove-nya. Keberadaan hutan mangrove di kampung ini menjadi daya tarik yang tak bisa dipungkiri, bukan hanya wisatawan lokal saja yang datang berkunjung, sejumlah wisatawan dari manca negara turut bertandang menikmati sejuknya bayu dan menikmati gemulainya dedauan ‘’menari’’  dihembus angin.

Kawasan ini dulunya tidaklah seperti sekarang. Dulu pernah punah ranah karena banyak pembalakan liar baik dilakukan masyarakat kampung itu sendiri, maupun masyarakat yang sengaja didatangkan para cukong untuk menangguk keuntungan sesaat. Sadarakan nasib yang akan diterima bila kawasan hutan terus dipunah-ranahkan, masyarakat secara spontan menghentikan aktivitas pencarian dan penjualan balak.

Walaupun pada awalnya masyarakat harus berjibaku mencari kehidupan lain, karena selama ini mereka selalu dimudahkan dengan penjualan kayu-kayu balak, namun secara perlahan namun pasti akhirnya masyarakat kampung bisa berubah. Segala pekerjaan mereka lakukan, tanpa ada  rasa segan dan malu, bagi mereka mencari rezeki yang halal dengan tidak melakukan pembalakan liar menjadi komitmen yang harus dijalani dan ditaati.

‘’Awal-awalnya memang susah kami mau berubah pak. Karena dengan menjadi perambah liar uang mudah didapat. Tinggal masuk ke hutan dalam hitungan jam saja uang sudah bisa kami dapatkan. Walau pun awalnya sulit namun secara perlahan masyarakat di sini akhirnya bisa sama sekali menghentikan pembalakan liar itu,’’ ujar Ketua Kelompok Rumah Alam Mangrove, Setiono menjawab Riau Pos.

Dulu, tambah dia kampung ini terisolir jauh, masyarakatnya sangat miskin. Pendidikan juga rendah, kalau masyarakat hendak melamar pekerjaan di perusahaan tidak pernah bisa karena perusahaan memerlukan tenaga kerja yang memiliki ijazah. Sementara masyarakat  di sini pendidikannya sangat rendah, tamat SD pada saat itu sudah cukup bagus. ‘’Coba bayangkan, hanya tamat SD, perusahaan mana yang mau menerima karyawan yang hanya tamat SD,’’ ujarnya.

Karena tak ada perusahaan yang mau menerima menjadi pekerja, sementara keluarga perlu berbagai macam keperluan seperti makan, rokok dan biaya sekolah anak-anak sehingga menjadi pembalak liar ini menjadi satu-satunya harapan masyarakat ketika itu. ‘’Hampir 100 persen masyarakat kampung kami ini dulu sebagai pembalak liar,’’ ujarnya.

Dirikan Rumah Alam Mangrove

Sekarang aktivitas masyarakat di kampung itu sudah berjalan dengan baik. Roda ekonomi masyarakat terus menanjak naik. Perlahan namun pasti  kesejahtaraan masyarakat kampung semakin membaik. Walaupun demikian upaya mereka menjaga dan melestarikan hutan terus mereka lakukan terutama melalui kelompok peduli terhadap kawasan hutan.

‘’Sekarang kami orang-orang kampung di sini mulai menanam kembali kawasan yang dulu pernah luluh lantak oleh pembalakan liar, terutama kawasan-kawasan yang berada di pinggir pantai. Kawasan-kawasan pinggir pantai juga dulu habis dibabat, kayunya ditebang dan dijual ke negara tetangga,’’ sebut dia lagi.

Melihat kondisi itu, masyarakat kampung mendirikan kelompok rumah alam mangrove. Kelompok ini secara perlahan-lahan menanami kembali lahan-lahan tepian pantai yang gundul. Dari rumah alam mangrove ini sudah memberikan dampak yang cukup positif bagi masyarakat Kampung Rawa Mekar Jaya.

Sudah hampir 20 ribu pohon mangrove yang sudah masyarakat tanam di sepanjang bantaran sungai. ‘’Upaya ini bisa diibaratkan sebagai penebus dosa yang pernah kami buat dengan melakukan tindakan pembalakan liar. Walaupun upaya penanaman kembali itu baru kami lakukan di sepanjang bibir pantai, namun ke depan penanam terhadap kawasan yang dulu pernah kami rambah juga akan dihijaukan kembali,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, kawasan-kawasan hutan yang dulu pernah mereka rambah, kondisinya memang kerusakannya tidak begitu parah, walau demikian upaya penanaman kembali harus tetap dilakukan. Sekarang, pihaknya sudah mulai membibitkan tanaman hutan, jika memang sudah layak dipindahkan akan dipindahkan ke kawasan yang sudah gundul.

Dari rumah alam bakau ini terus mengembangkan beragam inovasi. Inovasi-inovasi yang dilakukan masyarakat kampung telah membuah hasil yang cukup baik, bahkan sejumlah penghargaan diberikan kepada kelompok ini, tidak hanya penghargaan skala regional penghargaan tingkat nasional juga pernah diraih kelompok ini.

“Alhamdulillah, dari rumah alam bakau ini telah menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Masyarakat sangat terbantu dan alam bisa dilestarikan,’’ ujarnya.

Beternak Kepiting Soka

Upaya kelompok ini memberikan dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya terus dilakukan. Mereka selalu memanfaatkan apa yang ada di alam, namun tidak mengganggu alam itu sendiri. Sekarang, kelompok rumah alam bakau tengah menggalakkan dan menggerakkan masyarakat tempatan untuk beternak kepiting soka maupun kepiting lokal yang ada di daerah  itu.

‘’Kami punya dua kolam. Kolam ini akan menjadi percontohan kepada masyarakat kampung di sini. Sekarang baru satu kolam yang kami isi dengan 500 ekor kepiting soka. Kami berharap upaya peternakan kepiting ini akan membuahkan hasil sehingga akan ditiru oleh masyarakat,’’ ujar Setiono lagi.

Disebutkannya, mengapa mereka memilih kepiting, karena selain nilai jualnya tinggi di pasaran kondisi alam daerah itu yang sangat cocok dengan habitat kepiting.  ‘’Ini baru contoh, sudah 500 ekor kami tabur di kolam. Jika berhasil kami berharap ini akan ditiru oleh masyarakat lainnya, sehingga akan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,’’ ujarnya.

Disebutkannya, dengan kondisi yang ada saat ini perkembangan pertumbuhan kepiting yang mereka pelihara menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan, meskipun ada beberapa ekor yang mati. Matinya kepiting itu karena kondisi air yang harus senantiasa dijaga. Kepiting dihabitatnya harus di air yang berasa payau, karenanya upaya menjaga agar air di kolam tetap harus mereka perhatikan setiap saat.

‘’Di awal-awal, kolam harus ditabur dengan kapur untuk membuang keasaman tanah, sekarang payau air harus senantiasa di jaga. Ini penting sekali, karena jika airnya tidak payau kepiting akan mati. Kalau mati kami akan rugi karena bibitnya harus dibeli dari daerah lain,’’ ujarnya.

Karenanya, untuk menjaga air di kolam tetap payau pihaknya menyiapkan satu unit pompa air yang siap menyedot air dari sungai yang tidak jauh dari kolam. ‘’Kalau kondisi air tidak payau kami langsung menyedot air dari sungai,’’ sebutnya.

Untuk satu kilogram kepiting soka ini, mereka beli seharga Rp80.000. Sementara jika nanti dijual kepada konsumen harganya Rp150.000. ‘’Sepertinya beternak kepiting ini sangat menjanjikan, karenanya ke depan kami berharap beternak kepiting ini akan menjadi sumber ekonomi masyarakat kampung karena kondisi alam di sini memang sangat cocok untuk beternak kepiting,’’ ujarnya.

Apa harus menjadi perhatian utama dalam beternak kepiting ini? ‘’Kondisi  kita di Riau ini kan asam, karenanya air harus senantiasa payau harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Jika tidak kepiting akan mati karena tidak cocok dengan habitatnya,’’ sebutnya.

 Kampung Wisata

Kalau dulu kampung ini sangat jauh dari jangkauan masyarakat luar, sekarang kampung ini sering didatangi orang-orang dari berbagai penjuru, tidak hanya masyarakat Riau saja akan tetapi masyarakat dari luar negeri juga ada yang bertandang ke kampung itu. Masyarakat yang datang untuk menikmati keindahan alam kampung terutama kawasan wisata hutan mangrove yang dikelola sepenuhnya oleh masyarakat setempat.

Sebagai kawasan wisata, khususnya wisata alam hutan mangrove ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pengunjung yang datang bertandang. Fasilitas-fasilitas itu berupa jalan yang dibuat seperti jembatan yang mengelilingi kawasan itu, sehingga ketika pengunjung datang mereka tidak perlu lagi bertungkus lumus untuk berjalan merapah pantai yang berlumpur.

Selain itu, kelompok pengelola juga menyiapkan rumah-rumah pohon yang bisa digunakan pengunjung untuk beristirahat sejenak melepas lelah setelah puas berkeliling mengitari kawasan hutan mangrove, atau menikmati hidangan makanan yang telah mereka siapkan serta berbagai fasilitas penunjang lainnya.

Kelompok ini sendiri berdiri pada 2015, tepatnya pada  1 September, luasnya ketika 50 hektare dan kondisinya sangat rusak parah karena ditebang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kayu-kayu bakau yang ditebang ini digunakan untuk  berbagai keperluan termasuk dibawa ke negara tetangga.

Selain itu, di kawasan hutan bakau ini juga banyak terdapat satwa-satwa khas pantai yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk makanan sehari-hari, seperti seperti udang galah, kepiting, lokan, siput, rama-rama, belongan dan lain-lainnya.

Diceritakannya, dengan lima orang anggota ini mereka melakukan pembibitan mangrove sejenis bakau jumlahnya sekitar 1.500 pokok (pohon, red) dan Alhamdulillah dalam jangka waktu tiga bulan bibit itu tumbuh dengan baik. Melihat kondisi ini anggota kelompok semakin semangat  dan menambah jumlah pohon yang akan dibibitkan.

Source :

Riau Pos

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


two × 2 =