OJK Riau Optimis Komoditas Kelapa Sawit Mampu Topang Pertumbuhan Ekonomi

Source: Internet

 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Riau optimis komoditas kelapa sawit masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi setempat di 2018.

“Dasarnya kita lihat sektor utama di Riau itu masih sawit, ” kata Kepala OJK Riau Yusri saat dijumpai Antara di Pekanbaru, Kamis (25/1/2018).

Menurut Yusri, dengan dominannya sektor pertanian sawit di Riau ada banyak aktifitas ekonomi lain yang bergantung kepadanya termasuk lapangan kerja serta produk turunannya.

Selain ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) itu masih andalan pendapatan, belum lagi produk hilirnya Itu semua menggerakkan ekonomi Riau hingga Usaha Mikro Kecil Menengah.

“Boleh dihitung berapa banyak masyarakat yang bergantung dan bekerja di sektor sawit berapa investasi sawit itu adalah menyerap pekerja,” ungkap Yusri.

Apalagi dengan adanya kebijakan pemerintah pusat untuk mereplanting tanaman sawit di Riau pada tahun ini. Peluang untuk mendorong peningkatan ekonomi setempat tetap terbuka lebar. “Riau ditargetkan 2018 ada akan mereplamting sekitar 30 ribu hektare lahan sawitnya,” lanjutnya.

Yusri juga tidak menampik bahwa ada potensi lain yang juga mendorong pertumbuhan ekonomi Riau yakni industri kreatif. Tetapi masih perlu dukungan dari sektor lain.

Misalkan industri kuliner yang tumbuh di Pekanbaru, perlu ditopang oleh industri lainnya yakni pariwisata, dan jasa.

“Makanya perlu dibangun target dan tujuan pariwisata kalau ini terjadi maka 14 industri kreatif bisa bangkit di Pekanbaru, ‘ tambahnya.

Intinya Ia menambahkan ekonomi Riau akan lebih baik dari 2017, karena akan ada Pilkada, ini akan mendorong permintaan barang. Pertumbuhan kredit 2018 diperkirakan juga lebih baik tumbuh sebesar 10-12 persen.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Ingot Achmad pada kesempatan yang sama membenarkan Riau harus merubah paradigma perekonomian.

“Pekanbaru khususnya harus menggeser paradikma baru untuk sumber ekonomi baru melalui sumber daya lokal, misalkan salah satu contohnya dengan memperhatikan produksi batu bata yang dikelola pengerajin di Tenayan Raya kini mulai mati,” ujar Yusri.

Padahal Pekanbaru hingga kedepan masih membutuhkan pembangunan infrastruktur dan gedung. “Disamping mengedukasi UKM agar mampu menguasai pasar, menekan biaya produksi, kalau masalah modal saya nilai sejauh ini sudah cukup terbuka,” tambahnya.

Source :

Industry

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


fourteen − ten =