Pertalite di Riau Rp8.000 per Liter, Konsumen Berburu Premium Lagi

Foto: Viva

 

BPH Migas mencatat kelangkaan Premium yang terjadi di Riau disebut karena adanya perpindahan konsumsi dari Pertalite ke BBM dengan oktan 88 tersebut.

Hal itu terjadi seiring adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi, seperti Pertalite dan Pertamax karena harga minyak mentah yang terus melambung naik.

Anggota Komite BPH Migas Henry Achmad mengatakan, pihaknya sudah berkunjung ke Riau dan bertemu dengan mahasiswa di sana untuk membahas terkait kelangkaan Premium. BPH Migas pun meminta PT Pertamina (Persero) untuk menyalurkan Premium sesuai kuota tahun ini yakni, 7,5 juta kilo liter (KL).

“Pemerintah daerah Riau memang ada yang meminta tambahan kuota Premium, tetapi saya bilang yang ada saja masih ada yang belum disalurkan, bagaimana mau menambah kuotanya,” ujarnya pada Kamis (15/3).

Adapun, Riau menjadi salah satu daerah yang mendapatkan kuota BBM penugasan yang cukup besar yakni, 673.000 KL. Jumlah itu sebesar 8,49% dari total kuota Premium tahun ini.

Persentase kuota Premium di Riau itu lebih besar dibandingkan dengan Sumatra utara sebesar 8,02%, dan Sumatra Barat sebesar 4,5%.

Sebelumnya, Pertamina juga sempat meminta kuota Premium pada tahun ini bisa ditekan menjadi 4 juta KL dari kuota yang ditentukan 7,5 juta KL. Namun, BPH Migas meminta perusahaan pelat merah itu menyalurkan Premium sesuai dengan kuota awal.

Henry mengatakan, kelangkaan Premium yang terjadi di Riau pun disebabkan sarana prasarana bensin RON88 itu sudah diubah menjadi Pertalite. Pasalnya, masyarakat Riau sudah beralih menggunakan BBM RON90 ke atas.

“Sayangnya, ketika harga Pertalite dan Pertamax naik, masyarakat kembali beralih ke Premium, tetapi prasarananya sudah tidak ada. Di sana [Riau], harga Pertamax sudah tembus Rp8.000 per liter, sedangkan Premium hanya Rp6.450 per liter, ya orang cari yang lebih murah,” ujarnya.

Dia pun mengatakan, bila Pertamina ingin permintaan BBM seperti Pertalite dan Pertamax tetap stabil, perusahaan pelat merah itu diminta untuk semakin gencar melakukan sosialisasi.

“Lakukan saja sosialisasi tentang manfaat menggunakan BBM dengan oktan yang lebih besar. Soalnya, masyarakat masih banyak yang belum paham soal ini,” ujarnya.

Persoalan kelangkaan Premium menyeruak awal bulan ini setelah mahasiswa di Riau melakukan demonstrasi terkait terjadi kelangkaan bahan bakar RON88 tersebut.

Bahkan, ada isu yang beredar kelangkaan Premium berhubungan dengan Pilkada yang akan diselanggarakan pada tahun ini.

Namun, Henry menampik isu tersebut. “Enggak lah, tidak ada hubungannya,” ujarnya.

Source :

Bisnis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1 + 14 =