Silang Sengkarut Kepentingan Taman Nasional Tesso Nilo

Source: Internet

 

Indonesia kaya akan sumber daya alam. Bukan hanya hasil bumi, tetapi juga ribuan satwa yang tersebar di penjuru Nusantara. Sayangnya, kini satwa asli Indonesia sudah mulai sedikit jumlahnya. Salah satu upaya pemerintah adalah memberikan lahan khusus untuk satwa-satwa tersebut agar terjaga kelestariannya. Salah satunya adalah Taman Nasional Tesso Nilo. Sebuah taman nasional yang melindungi satwa langka yang terletak di Provinsi Riau.

Taman nasional ini memiliki luas 38.576 hektare. Dulunya kawasan taman nasional ini adalah Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang terletak di antara Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Sampai sekarang, di sekitar TNTN ini masih terdapat kawasan HPH. Perubahan fungsi tersebut berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 255/Menhut-II/2004 tanggal 19 Juli 2004.

Bukan hanya satwa yang terdapat di taman nasional ini. Ada juga 360 jenis flora, 3 jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia, dan 18 jenis amfibi. Tesso Nilo juga merupakan tempat konservasi gajah sumatera, yang jumlahnya semakin hari makin sedikit.

Hanya saja, dari luas lahan tersebut, masih menyisakan persoalan, yaitu perambahan lahan. Banyak masyarakat mengklaim kepemilikan lahan yang dijadikan kebun masyarakat dan lahan sawit yang semakin hari jumlahnya makin luas. Ada banyak kepala keluarga mengaku memiliki hak di kawasan tersebut. Tentu saja ini sangat menganggu kelangsungan satwa langka yang menghuni TNTN.

Kebakaran hutan juga menjadi kendala tersendiri di kawasan ini. Semakin berkurangnya lahan, semakin sedikit pula satwa langka yang ada di hutan tersebut. Keberadaan mereka terancam dan seolah tidak mendapat suaka. Belum lagi banyaknya satwa yang mati setiap tahun, menyebabkan semakin berkurangnya populasi hewan langka.

Pemegang Kendali

Pemegang kendali kawasan tersebut adalah pemerintah pusat di bawah pengeloaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Selama ini pemerintah bekerja sama dengan lembaga asing, World Wildlife Fun (WWF), dalam mengelola taman yang resmi dibuka pada 2004 itu. Kegiatan yang dilakukan WWF Indonesia di TNTN untuk mencegah berkurangnya populasi gajau sumatera.

Letak TNTN yang berbatasan langsung dengan lahan yang diklaim milik warga membuat gajah sumatera terancam. Pasalnya, seringkali mereka masuk ke perkebunan milik warga. Warga yang tidak terima lahannya rusak karena dimasuki kawanan gajah tersebut sangat mungkin membunuh kawanan gajah. Tindakan yang demikian tentu mengancam populasi gajah.

Kasus gajah mati atau kebakaran hutan semakin marak terjadi di Tesso Nilo. Bahkan beberapa kali kedapatan hewan terkena ranjau yangsengaja dipasang untuk menjebak mereka. Kematian gajah yang tiba-tiba juga menjadi persoalan tersendiri di Tesso Nilo.

Persoalan-persoalan tersebut yang sering dipermasalahkan dan mempertanyakan kinerja WWF di Indonesia. Beberapa waktu lalu, DPR pernah mempertanyakan kinerja dari WWF Indonesia di Tesso Nilo karena masih ada banyak persoalan yang belum terselesaikan.

Sampai saat ini WWF Indonesia masih berada di Tesso Nilo. Tim mereka yang diberi nama Elephant Flying Squad secara rutin berkeliling hutan sebagai langkah antisipasi jika ada satwa yang terjebak ranjau. Kendati demikian, masih ada saja satwa yang terkena ranjau yang dipasang atau ketika mereka berkeliaran di pemukiman warga menjadi sasaran empuk untuk dimusnahkan.

Pertanyakan Kinerja WWF

Penurunan jumlah populasi gajah sumatera tersebut diakibatkan deforestasi dan konservasi hutan menjadi lahan perkebunan dan pemukiman. Gajah pun kehilangan habitat asal mereka. Kondisi semakin diperburuk dengan banyak kalangan mengincar gading gajah untuk diperjualbelikan. Masih maraknya praktik seperti ini dianggap oleh sebagian kalangan adalah kegagalan WWF yang selama ini mengelola taman nasional tersebut.

WWF Indonesia sempat membantah bahwa pengelolaan TNTN ada di bawah kendali mereka. Menurut mereka, pengelolaan masih di bawah pemerintah. Apa yang dilakukan WWF Indonesia saat ini dianggap sebagai pencitraan atau polesan make-up belaka. Masalah klasik belum juga terselesaikan di wilayah tersebut.

Faktanya, WWF sudah menuliskan visi mereka berada di Tesso Nilo. Antara lain untuk menghubungkan hutan-hutan yang terdapat di kawasan tersebut guna menyediakan habitat yang layak bagi gajah dan harimau. Kawasan tersebut juga dirancang aman untuk spesies lain yang langka dan terancam punah.

Visi lain adalah mencegah pembunuhan harimau dan gajah. Seain itu juga memotong mata rantai perdagangan bagian tubuh satwa yang dilindungi. WWF dalam misinya juga menyebutkan akan meminimalisasi konflik penduduk dengan satwa liar. Kerja sama juga dilakukan dengan masyarakat, industri setempat, dan pemerintah selaku pengelola utama.

Jika melihat program kerja atau visi yang menggiurkan tersebut tentu kita akan bertanya, seberapa efektif kinerja mereka dalam merawat Tesso Nilo? Apakah visi mereka tercatat ataukah capaian selama ini hanya untuk kepentingan kelompok mereka?

Pemerintah seharusnya mampu menimbang ulang keberadaan WWF Indonesia di Tesso Nilo karena ada banyak kepentingan di wilayah ini. Apalagi pada Januari lalu ditemukan titik api yang berpotensi menjadi kebakaran hutan dan berimbas pada terjadinya kabut asap di wilayah Sumatera.

Jika pemerintah tidak mengambil tindakan tegas dan merevitalisasi semua elemen yang ada di Tesso Nilo, persoalan semacam ini akan terus berulang dan penyelesaiannya tidak juga didapat secara pasti.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


one × four =