Hoax Ratna Sarumpaet Bisa Ganggu Kampanye Prabowo

Photo: Mata Mata Politik

 

Seorang aktivis anti-pemerintah di Indonesia—yang hingga Rabu (3/10) juga merupakan anggota tim kampanye dari lawan utama Presiden Joko Widodo dalam pemilu yang akan datang—telah ditangkap ketika dia mencoba untuk meninggalkan negara itu, setelah melakukan kebohongan bahwa ia diserang.

Kedua kandidat oposisi—Prabowo Subianto dan pasangannya Sandiaga Uno—yang mengklaim bahwa mereka tertipu oleh hoax tersebut, telah menawarkan diri untuk memberikan informasi kepada polisi.

Kisah aneh ini dipicu oleh klaim Ratna Sarumpaet pada Selasa (2/10) bahwa dia diserang oleh tiga pria di Bandung, Jawa Barat, pada bulan lalu.

Dugaan serangan itu segera menarik simpati Prabowo, yang kemudian pada hari yang sama mengatakan bahwa dia akan berbicara dengan Kepala Polisi Nasional Tito Karnavian tentang “pelanggaran hak asasi manusia yang nyata”.

Tapi, hanya sehari setelah Prabowo menyuarakan dukungannya untuk Ratna, Ratna sambil menangis mengaku bahwa serangan itu adalah cerita yang dibuat-buat. Mantan aktris berusia 69 tahun itu ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (4/10) malam.

Sandiaga kemarin mengatakan bahwa baik dia dan Prabowo siap memberikan pernyataan kepada polisi tentang hoax tersebut jika diperlukan.

“Saya dan Pak Prabowo, sebagai warga yang mematuhi hukum, pasti akan mengikuti keputusan hukum apa pun,” kata Sandiaga kepada para wartawan. “Jadi, jika saya dimintai klarifikasi, saya akan siap.”

Dia menambahkan bahwa keduanya telah mempercayai klaim Ratna, dan bahwa mereka menjadi korban dalam kisah itu.

Prabowo telah meminta Ratna untuk mengundurkan diri dari tim kampanyenya—yang dia lakukan melalui surat pada Rabu (3/10) malam.

Pada Kamis (4/10), Prabowo meminta maaf “karena memperkuat sesuatu yang kami yakini benar”, dan menambahkan bahwa timnya tidak mentoleransi berita palsu dan akan bertindak tegas terhadap anggota yang secara terbuka menyebarkan kebohongan.

Portal berita Indonesia Tempo mengatakan bahwa laporan polisi diajukan terhadap Sandiaga dan Prabowo—serta tokoh-tokoh lain di kubu oposisi, seperti Wakil Ketua Partai Gerindra, Fadli Zon—atas penyebaran hoax.

Salah satunya, Amien Rais, yang dipanggil kemarin untuk ditanyai oleh polisi.

Mantan jenderal dan Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto melambai ketika ia tiba untuk mendaftarkan dirinya dan mantan Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno sebagai kandidat untuk pemilihan presiden 2019 di luar Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 2018. (Foto: Reuters)

Ratna mengaku pada Rabu (3/10), dan mengakui bahwa lebam di wajahnya sebenarnya hasil lebam akibat prosedur kosmetik yang dijalaninya.

Dia telah berbohong tentang serangan tersebut untuk menutup-nutupi kepergiannya selama ia berada di sebuah rumah sakit estetika di Jakarta dari tanggal 21 hingga 24 September.

Pengakuannya datang setelah polisi pada hari sebelumnya mengatakan bahwa mereka memiliki bukti bahwa Ratna berada di rumah sakit Jakarta pada hari dia menuduh dia diserang di Bandung.

Para penyelidik juga menemukan bahwa Ratna membayar perawatan dari rekening bank yang digunakan untuk mengumpulkan dana bagi para korban tragedi feri Danau Toba tanggal 18 Juni, di mana lebih dari 150 orang hilang dan diduga tewas—meskipun polisi kemarin menjelaskan bahwa mereka belum mengkonfirmasi apakah dia menggunakan uang donasi untuk membiayai prosedurnya.

Ratna mengklaim pada Kamis (4/10) bahwa dia tidak melarikan diri dari negara tersebut untuk menghindari tuntutan. Dia mengatakan bahwa dia terbang ke Chili untuk konferensi—perjalanan yang dia katakan dibiayai oleh pemerintah Provinsi Jakarta.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta mengatakan kemarin (5/10), bahwa ia benar-benar akan pergi untuk Women Playwrights International Conference ke-11, di mana ia adalah seorang penasihat senior, dan menambahkan bahwa Ratna telah meminta sponsor pada bulan Januari.

Dengan adanya pemilihan umum yang menjulang tahun depan, kebohongan Ratna dapat mengganggu kampanye.

Pada Kamis (4/10), tim kampanye Jokowi mengajukan laporan kepada Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), dan menuduh bahwa kesepakatan oleh kedua tim calon presiden untuk melakukan kampanye damai telah dilanggar.

Direktur advokasi dan divisi hukum tim tersebut, Irfan Pulungan, mengatakan kepada The Jakarta Post bahwa dia tidak menyebut siapa pun secara individu.

“Kami tidak ingin menuntut seseorang,” katanya. “Kami hanya ingin memberikan masukan kepada Bawaslu agar lebih berhati-hati terkait dengan potensi ujaran kebencian dan hoax.”

Pendiri Lingkaran Survei Indonesia Denny JA, mengatakan bahwa hoax Ratna Sarumpaet adalah sebuah skandal dan akan mengganggu dukungan untuk Prabowo.

“Dampaknya adalah para pemilih sekarang lebih negatif terhadap Prabowo. Mengapa? Karena ini menunjukkan bahwa tim Prabowo bisa dengan mudah tertipu,” katanya kepada portal berita Indonesia Detik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1 × one =